Bisa dibilang, aku ini orangnya pemimpi kelas berat. Hal-hal
yang jadi mimpi aku, jumlahnya gak cuma satu, tapi segambreng sejubel
seabrek-abrek. Aku selalu yakin, di dunia ini ada jutaan hal keren yang sangat
wow kalau bisa digapai sebelum kita meninggal. Hidup terlalu indah, kan ya? Dan
bagian-bagaian paling indah dari indahnya hidup, aku sematkan menjadi mimpi
mimpi bangun.
Lantas aku mengejar semuanya? Gak. Semakin dewasa aku
semakin belajar untuk memilah mimpi, mana mana yang pantas dikejar, dan mana
mana yang sebaiknya dikirim ke alam tidur. Mimpi-mimpiku pelan-pelan terbagi
dua, yang dikerjakan, dan yang dimimpikan.
Buat aku, mereka yang sudah masuk mimpi yang dikerjakan,
berarti sudah bukan lagi angan-angan. Bukan lagi mantra-mantra sebelum tidur.
Aku gak percaya sama omongan “Pikirkan
mimpi kamu setiap mau tidur, maka kamu akan semakin dekat dengannya”. Iya, semakin
dekat tercapai, di pulau kapuk. Terus dikhayalkan lama-lama beneran jadi
khayalan selamanya. Buat aku mimpi sesungguhnya ada saat aku bangun. Dimulai saat aku memutuskan mematikan alarm
hape setiap pagi.
Hari ini kuliahku menginjak tahun ke 6 lebih banyak, hampir
7 tahun. Kalau kata seorang temen blogger, aku ini masuk angkatan cuci gudang. Dropout udah di depan mata banget, tapi
skripsiku belum juga selesai. Banyak yang nanya, katanya sarjana komunikasi itu mimpiku, kok gak lulus lulus? Aku cuma bisa senyum. Senyum yang
ngungkapin betapa aku bahagia sama pertanyaan itu. Buat aku, lulus itu harus,
karena sarjana komunikasi adalah mimpiku. Tapi tentang menikmati setiap detik
prosesnya, itu pilihan.
Mimpiku bukan cuma sarjana komunikasi. Aku punya mimpi lain
yang bejubel kalau ditulis di sini: menerbitkan buku dongeng, menginjakan kaki
di tanah di luar Indonesia, bermain drum di atas panggung besar, memiliki dua buah hati dengan nama Jiwo dan Anna, menaikan berat badan ke angka 55 kilogram,
punya kebun sayur di halaman rumah, ngecat rambut warna blue black dengan perawatan maksimal, punya mobil taft atau jeep atau jangkrik
beli pakai uang sendiri, setop minta uang ke Papa sebelum umur 25 tahun,
membangun rumah dongeng yang rimbun dengan pohon-pohon, punya rumah sendiri dengan halaman superluas, bayar kuliah pakai uang
sendiri, dan punya penghasilan tetap tanpa perlu berangkat ke kantor.
Sekarang umurku 24. Aku belum sarjana. Tapi aku sudah
menerbitkan buku dongeng, sudah menginjakan kaki di tanah di luar Indonesia, sudah
punya keluarga kecil sederhana utuh bahagia, sudah punya kebun sayur di halaman
rumah, sudah setop minta uang ke Papa sejak umur 22 tahun, sudah bayar kuliah
pakai uang sendiri, sudah punya penghasilan tetap tanpa perlu berangkat ke
kantor, dan sudah sedang berada di tengah jalan mimpi-mimpi yang lain. Aku menyelesaikan satu-satu apa yang aku putuskan untuk dikejar.
Kemarin, ada teman menulis di blognya, judulnya bawa-bawa
namaku. Dia cerita di blognya kalau dia punya mimpi keliling dunia. Dia akan
memulainya dengan Australia, Holiday and
Working Visa. Tapi nanti, setelah lulus kuliah. Setelah dapat gelar sarjana
dari universitas kami.
Bel, kamu baca ini kan?
Kalau aku jadi kamu, aku akan memilih. Memilih cepat-cepat
menyelesaikan kuliahku, karena HWV ku bisa segera dimulai. Atau, memilih
berjuang keliling dunia bagaimanapun caranya, karena skripsi dan lulus bisa
nanti. Suer, bisa nanti.
Karena mimpi itu dikerjakan, bukan dirapalkan. Apalagi cuma
ditulis ditwitter saban malam.
Purwokerto, beberapa
jam setelah kita saling bully, November 2014
Anyway, thanks for letting me know that I'm awesome. I'm gonna buy you a bowl of Djagongan cafe french fries, at our next openmic-meeting.
:P
Sabar Pung... nikmati setiap moment sebagai mahasiswa sangat senior. Aku juga pernah merasakan saat "kemahasiswaanku" didiskon habis-habisan oleh dosen2 pembimbing,, hehehe
BalasHapusAda masa dimana mengejar apa yang kita inginkan itu butuh waktu. Dan waktu itu yang akan mengajarkan, itu mimpimu atau bukan. Tetapi, tidak ada yang penah salah dengan yg namanya "mencoba".
BalasHapusSenang sudah berkunjung kemari :)
kalau mimpi soal Aliando gak dikejar kan Punkgy hehehe inte Mas Slamet eh salah Mas Topan hehehe
BalasHapusWaaah baru tahu kalo udah punya penghasilan tetap tanpa harus keluar rumah. Keren lo Pung! Gue juga sedikit-sedikit lagi 'ngerjain' apa yang tadinya gue bilang mimpi. Pelaaaan. tapi jalan. Hehehe. \:D/
BalasHapusYang penting statusnya mahasiswa. Mahasiswa kan indentik dengan pemikiran brilian dan mimpi yang menjulang untuk dikejar
BalasHapusPunq Kreatif...
BalasHapusmas obebelnya mana nih ? hahahaa
BalasHapusDan mimpi akan membawamu melanglang buanaaa..tsaaah...ayo semangaat pung...potongan puzzle hidupku juga dimulai dari mimpi, di satu sudut kota Tanjung Karang yang asli bikin kangeeen hehehe...hugs hugs..untuk sesama pemimpi yang selalu punya semangat untuk mewujudkannya, instead of tweeting it every night hihihi..
BalasHapus