
Pada satu siang yang mendung di Sumampir, Purwokerto, kudengar dentuman keras yang menggempakan rumahku beserta isinya. Kaca-kaca bergetar keras, pajangan-pajangan tembok mengayun di udara, bangunan dua kamar dengan sapu warna pelangi di terasnya ini ikut bergetar. Bahkan beberapa benda vital sebut saja pensil alis, sukses terjun ke lantai bersama teman-teman seperjuangannya. Gunung Slamet erupsi.
***