Pungky Prayitno @ 2013. Diberdayakan oleh Blogger.

Wah, Ini Dia 3 ZenBook Terbaru ASUS!



Kenapa sih notebook itu berat-berat? Kan jadi ribet dibawa kemana-mana, sekalinya ada yang mungil dan enteng, performanya memble. Aku species orang yang mobilitasnya tinggi, jadi kerjaan beneran ikut kemanapun aku pergi. Aku nggak punya tuh tempelan di dinding yang isinya timeline atau deadline kerjaan, semuanya ada di hape, di laptop. Ya maklum, ibu-ibu ini jarang di rumah, kelayapan mulu. muehehehe

Jadi notebook berat itu sebenernya sangat menganggu kinerjaku. Karena udah dandan cakep-cakep, ya masa bawa gembolan, kan nanti ilang cantiknya. Males juga bawa kemana-mana, hidup udah berat, ditambah pula sama laptop. Penginnya itu, notebook yang enteng, slim, stylish, tapi oke diajak kerja.

Dan ASUS menjawab ini, yaiy! Pada hajatan The Edge of Beyond kemarin, brand cinta matiku ini meluncurkan 6 notebook terbarunya yang semuanya kayak aku: langsing, ringan, tapi performanya jagoan. Serah lu, pung, serah..

The Edge of Beyond, Lahirnya 6 Notebook Terbaru ASUS


Astaga cakep banget yaaa... notebooknya. Yaiyalah masa apelnya. Yang bersamaku itu, namanya Zenbook 3 Deluxe, iya, gantengnya emang kebangetan. Dia, dan lima temannya, bakal diluncurkan sama ASUS Indonesia. Kapan? Besok.

The Edge of Beyond, begitu tajuk acara yang diadakan oleh ASUS untuk meluncurkan 6 notebook ganteng ini. Pungky cepet amat sih kalo soal yang ganteng-ganteng. Mereka terdiri dari 5 ultrabook tipis di bawah brand ZenBook dan VivoBook, dan 1 notebook gaming di bawah asuhan ASUS ROG.

((( di bawah asuhan )))

Rafflesia Bukan Bunga Bangkai!



Siapa sih yang pertama bilang kalau Rafflesia itu Bunga Bangkai? Kita ajak ngomong baik-baik yuk! hahahaha beda, tau. Walaupun sama-sama puspa langka yang tumbuh di Bengkulu, tapi Rafflesia bukan bunga bangkai! Mereka adalah dua bunga yang berbeda, dari sudut mana pun.

Duduklah yang nyaman, sini kuceritakan tentang mereka..

Siang yang mabok waktu itu, di tengah perjalanan menuju pelukan Mas Harun Bastari, tiba-tiba bis kami berhenti. Kami yang dimaksud pada kalimat sebelum ini adalah rombongan Famtrip Festival Bumi Rafflesia 2017, yang kebetulan aku berkesempatan jadi satu di antaranya. 

Eh ada apa nih kok bisnya berhenti tiba-tiba? Mogok?

Mas Harun Bastari, Kamu Membuatku Mabuk Kepahiang!




"Ayo Pung, pasti kuat pasti kuat pasti kuat"

Aku terus bilang ke diri sendiri berulang kali, sambil terus nelen ludah, sambil keringet dingin, sambil merem, sambil lemah lunglai bagai tanaman toge baru keguyur ujan. Rasanya nyawa kayak udah di ujung kepala, bener-bener mau pingsan.

Sampai tiba-tiba kak Asnody, guide kami, melintas di sebelah kursiku. Enggak pakai nanti, aku langsung jerit minta kresek saat itu juga. Ini udah di ujung banget, nggak bisa entar. Kak Rere, yang kebetulan duduk di sebelahku, jiwa ibu-ibunya langsung bergelora. Dengan super-baik dia nawarin macem-macem supaya aku bertahan. Dari minyak kayu putih, tisu, permen sampai akhirnya sang penyelamatku; kresek.

Aku senderan ke jendela, merem sambil mikirin yang indah-indah biar lupa. Jangan ditanya heh mikirin siapa, pokoknya mah indah! Nggak bisa, kepala rasanya kayak lagi dijambak-jambak. Pusing dan beneran gliyengan, badanku mulai gemeteran dan saat tercemen akhirnya datang juga; isi perutku keluar semua. Beneran semuanya.

Perkampungan Tua Bitombang, Secuil Kemesraan Kepulauan Selayar


Matahari lagi ganteng-gantengnya waktu jalan yang aku tapaki mulai menanjak dan membawaku ke perkampungan tertinggi di Kepulauan Selayar. Sekalipun terik, aku gak bisa menolak keinginan untuk menengadahkan kepala.

Beberapa meter dari batu besar yang menjadi ‘gerbang’ masuk, aku dikepung rumah-rumah tinggi khas suku Bugis. Bedanya, yang ini tinggi banget. Beneran tinggi sampai-sampai mataku perih karena seperti menantang matahari. Aku menarik napas dalam, senyum-senyum norak dan bilang bangga sama diri sendiri.. akhirnya sampai juga.

“Selamat datang di Bitombang, mbak. Perjalanan jauh, ye?”

Seorang bapak berbalut kaos dan kain sarung menyambutku dengan senyum. Kepala desa. Kata ye di akhir kalimatnya, mengisyaratkan bahwa beliau asli Selayar. Seraya mengembangkan sebelah tangan, aku diajak naik ke bukit yang lebih tinggi, menuju pintu masuk rumah-rumah yang mengusik rasa penasaranku sejak tadi.

Saya Indonesia, Saya... Pancasila?



Aku hapal Pancasila, hapal banget. Ngelotok luar kepala dari jaman SD. Dulu map yang buat baca teks Pancasila di sekolahku udah rusak, kertasnya sobek. Dan aku sering ditunjuk jadi petugas upacara, baca Pancasila karena aku salah satu siswi yang hapal luar kepala. Nilai PMP ku selalu 9, sampai mata pelajarannya berubah jadi PPKN, nilaiku nggak pernah di bawah angka delapan.

Minggu kemarin ada Pekan Pancasila, wogh ikut juga dong aku pajang hestek sana sini #SayaPancasila #SayaIndonesia. 

Tapi.. benarkah aku seorang yang Pancasila?