Pungky Prayitno @ 2013. Diberdayakan oleh Blogger.

Soal Hati Mahasiswa Komunikasi

Mari sejenak duduk menonton televisi dengan saluran saluran dalam negeri. Menikmati tayangan-tayangan khas televisi saat ini. Aku sedang tidak mengajak kalian menikmati hal menarik dalam televisi. Karena aku tau, satu-satunya yang menarik di siaran televisi Indonesia adalah sejuta hal yang mengantri untuk dibully. Jadi saja pemirsa selayaknya, sebentar saja.

Apa yang menghibur dari adegan Olga dan Jessica tindih-tindihan di acara yang katanya hiburan? Apa yang bisa ditertawakan dari tayangan lawak bertema opera jawa yang isinya penuh dengan adegan kekerasan dan mencelakai orang lain? Apa yang bisa dinikmati dari cerita cecintaan di sinetron anak sekolahan? Apa yang menyenangkan dari konser boyband bernama junior yang lirik lagunya berkutat tentang jatuh cinta ala orang dewasa? Apa yang bisa dinikmati dari televisi kita?

Lebih lagi kalau tontonan-tontonan seperti ini jatuh ke mata anak-anak di bawah umur.  Apa yang bisa mereka contoh dari televisi negeri ini? jatuh cinta cengeng ala sinetron? Atau mencelakai orang lain ala tayangan lawak? Atau menghina orang lain ala acara hiburan? Atau lirik-lirik lagu mahasampah di acara berjinggle yeyeye lalalala?

Dulu, setiap minggu pagi, dari waktu sarapan sampai jam makan siang, aku akan melakukan segala aktivitas di depan tivi. Dari mulai makan, menjaga adik, sampai mencicil PR untuk hari senin. Jelas saja, ogah rasanya meninggalkan televisi. Dari pagi sampai siang, tasiun-stasiun tivi dengan sangat baiknya memarathon serial kartun dan acara musik kesukaanku. Bahkan terkadang siang dan soreku masih dihipnotis televisi dengan ci luk ba, tralala trilili, bando, arena bocah cilik, dan serial superhero seperti ultraman, power rangger, atau satria baja hitam. Sampai aku tiba di hari minggu beberapa belas tahun setelahnya. Di satu pagi ketika aku merindukan serial-serial kartun kesukaanku. Apa yang aku dapatkan? Tentu saja film kartun. Tapi hanya satu dua. Selebihnya hari minggu di televisi indonesia dijejali dengan acara musik anak muda dengan para host yang super ngawur dan musik-musik yang rasanya aneh untuk dinikmati anak-anak.

Lalu kemana anak-anak indonesia hari ini mencari hiburan televisinya? Mereka bablas disuguhi tayangan-tayangan yang jauh dari usianya. Hey, acara lawak yang penuh adegan kekerasan itu ditonton ribuan anak-anak. Jangan bilang televisi hanyalah hiburan dan titik. 

Siapa yang seharusnya bertindak atas kebablasan ini? 

Orang tua tentu saja menjadi pion terdepan untuk menjadi portal penyelamat moral dan kebablasan hiburan anak-anak. Sikap tegas orang tua sudah tidak usah disarankan lagi. Ini menjadi harus. Harus kalau memang ingin anak-anaknya tetap bisa menikmati menjadi anak-anak. Harus kalau memang tidak mau anaknya menjadi ajaib seperti bundadari.

Sebenarnya ada yang sangat bisa bertindak dan menyudahi kebablasan ini. Menyetop tayangan-tayangan yang kurang pantas di televisi. Mereka adalah pemegang kuasa tayangan-tayangan tersebut. Para pekerja kreatif yang mencari uang melalui televisi. Manusia-manusia yang mencari nafkah dengan memproduksi acara-acara tivi. Mereka bisa bertindak dan menjadi pahlawan anak-anak kalau saja mereka mau. Kalau saja ratting tidak diTuhankan. Kalau saja bekerja jaman sekarang tidak hanya sekedar demi uang.

Dan ini seharusnya menjadi PR besar untuk aku dan teman-teman. Para mahasiswa jurusan ilmu komunikasi yang setiap hari dijejali soal media dan tetekbengeknya. Yang belajar segudang teori soal dampak televisi. Yang sebagian kami, punya cita-cita bekerja menjadi awak tivi. Yang akan mengisi posisi-posisi penting di dapur produksi acara televisi. Setelah nanti sarjana dan bekerja, dengan modal segambreng teori dan pengetahuan soal media, seharusnya kami bisa membatasi kedewasaan tayangan jaman sekarang. Berbekal kemampuan berkomunikasi, semestinya kami bisa membuat acara televisi menjadi alat penyampaian pesan yang baik untuk anak-anak. Sampah rasanya empat tahun lebih jungkir balik sampai kayang belajar soal ilmu komunikasi, tapi mengendalikan kedewasaan tayangan saja kami tidak mampu. 

Kami sebenarnya bisa menyudahi kengawuran tayangan televisi Indonesia saat ini. Menjadi polisi moral bagi televisi negeri sendiri. Menyelamatkan anak-anak untuk kembali menyaksikan porsi anak-anak. Bisa, sangat bisa. Tapi sayang, manusia tetaplah manusia. Kebanyakan kami kuliah tinggi hanya demi mendapat pekerjaan yang enak. Yang gajinya banyak. Yang sesuai dengan cita-cita dan embel-embel gelar sarjana. Bekerja hanya demi uang, peduli setan soal moral anak orang.

Mungkin hati dan peduli kami sudah diblokir oleh susahnya mencari pekerjaan. Memikirkan tentang mencari uang saja sudah bikin otak nyaris lurus, apalagi harus mencari uang sambil ribet peduli sana sini. Gak ada waktu. Sekali lagi, Uang. 

Jangankan berjuang mendapatkan posisi di stasiun televisi dan lalu menjadi pahlawan moral. Berjuang tidak menjadi korban saja, kami belum bisa. Maksudnya, aku belum bisa.

14 komentar

  1. Itulah PR untuk generasi kita sekarang... gimana caranya ia menyelamatkan tunas-tunas generasi muda kita... Bagaimana caranya mendidik dan mengajarkan pendidikan pada umur yang seharusnya

    BalasHapus
  2. Ayo, Pung, cepetan sarjana! Anak-anak Indonesia tak punya banyak waktu menunggu.

    BalasHapus
  3. nah !! PR bukan cuma buat anak komunikasi, tapi untuk semua muda mudi kita for better indonesia !! :) :*

    nice post ka..

    BalasHapus
  4. setuju kak ! seusia ini saja saya sdh malas nonton tv. tontonanya gak layak banget :|

    BalasHapus
  5. Sehari tanpa televisi...susah nggak ya?

    BalasHapus
  6. bener mbak, gue udah risih liat siaran televisi sekarang ini, hari minggu isinya acara musik2 sampah, ga ada mutunya, dan gak mendidik hufftt
    coba aja dulu, 1 harian gue bisa ga pindah dari depan televisi, karna kartun nya byk

    BalasHapus
  7. kalau aku jarang banget nonton tv. sengaja menekankan diri sendiri untuk hidup tanpa tv. aku udah biasa dong sehari tanpa tv :D hanya sesekali kalau ada acara Hitam Putih, Kick Andy atau kartun yang bagus.
    mental anak anak bisa rusak kalau setiap detiknya didepan tv.-___-
    harus selektif memilih tontonan untuk diri sendiri :D

    BalasHapus
  8. waaah setuju bgt ama postingannya , nice post :)

    BalasHapus
  9. hmmm..sebagai orang tua saya juga mengalami kegalauan yang sama..tapi alhamdulillah anak2 saya bukan tv freak addict yang bisa sampai berjam-jam nonton tv sampe berakar di tempatnya... acara yang gemar ditontonya pun bisa dihitung jari, upin ipin, boboiboy, larva..hehehe..tapi tetep dipantau supaya ga ditiru bulat2 adegan2nya..
    aniwei...saya kangen sama statiun tv yang mengedepankan idealisme edukasi sehat ketimbang popularitas, komersialism dan rating....

    BalasHapus
  10. oya nambahin lagi deh..boleh kan mbak? :D uang itu punya sisi positif selama proses dari awal sampe akhirnya bener juga.... gimana mau "mempropagandakan" siaran tv sehat kalo ga punya kemandirian finansial? disini makanya perlu advokasi sama jejaring potensial...#beuhh..mantap ga nih komen..hehehe

    BalasHapus
  11. harapan saya juga sama, semoga semua mahasiswa jurusan komunikasi ber'hati' seperti kamu. \m/

    BalasHapus
  12. miris emang kalo menelaah acara2 tivi kita yang sekarang. kadang tidak sesuai dengan kapasitas.

    BalasHapus