Pungky Prayitno @ 2013. Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Andai Aku Jadi Srikandi Blogger. Tampilkan semua postingan

Kita Ada untuk Berbagi (?)


Hancur rasanya mendengar kabar dari saudara sendiri, salah satu anggota kecil kami kedapatan video porno di galeri ponselnya. Bukan yang biasa, video dari negeri sakura itu berbalut adegan kekerasan sampai jeritan kata-kata kasar. Pembelaan si kecil adalah tidak tau apa-apa. Sudah hancur tertimpa tangga, ayahnya marah besar dan sukses memenjara si kecil dalam kamar satu hari penuh sampai mengaku dapat darimana. Aku yang hancur.

Marah rasanya menjadi tempat cerita pembantu rumah tanggaku sendiri. Kisah datang dari cucu laki-lakinya, usianya belum genap 60 hari, sudah kenyang menelan susu formula bahkan bubur bayi kemasan. Kutanya mengapa, dan ketakutan sang ibu akan perih dan pegal di payudara adalah jawabannya. Perih karena puting belum beradaptasi dengan isapan bayi dan pegal karena aliran dalam payudara tidak lancar. Padahal solusinya sederhana. Tapi sayangnya tak pernah ada pengetahuan ASI sampai ke desa mereka.

Gemas sekali mendengar ocehan anak kecil yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Gadis delapan tahun yang sudah fasih memaki ‘sialan!’ kepada teman-teman sebayanya. Kutanya kenapa ia sekasar demikian. Cerita panjangnya memberiku satu kesimpulan, perempuan kelas tiga sekolah dasar itu dendam dengan label “anak kafir” dari teman-temannya hanya karena dia berbeda agama.

Suatu hari satu setengah tahun yang lalu. Aku pergi mendongeng ke sebuah desa di pinggir Purwokerto. Bertemu anak-anak polos yang dengan senyum malaikatnya menyimak dan bahagia dengan cerita boneka tangan yang kubawakan. Selesai mendongeng seorang bapak datang, petinggi desa, mengeluh karena anak sebelah rumahnya tidak bisa ikut acara sore itu. Aku sedih karena ternyata tidak semua anak desa bisa datang, tapi lebih sedih lagi karena mendengar alasannya. Si anak tidak datang karena masih dalam perawatan. Duburnya di tusuk kayu oleh temannya sendiri. Spontan aku menangis saat mendengar usianya, korban adalah balita perempuan 3 tahun dan pelaku adalah anak laki-laki 5,5 tahun. Pemantiknya sederhana, berita kriminal di televisi. Kemana orang tuanya?

Alih alih sibuk dengan pekerjaan dan supaya anak senang. Seorang temanku membiarkan anak laki-laki 9 tahunnya bermain game online di warung internet seharian. Tidakkah sang ibu tau bahwa game online bukan sekedar permainan? Mengertikah sang ibu kalau game online adalah pintu masuk anak semata wayangnya menuju dunia maya yang sangat luas? Dunia dimana semuanya ada. Semua. Bahkan orang jahat yang berhasil menyedot habis ratusan ribu uangnya berdalih voucher-game-supaya-jagoan-cepat-menang untuk sang anak.

Aku marah, aku geram, aku hancur. Aku marah dengan segala kegagalan yang terjadi di sekitarku. Kegagalan yang sebenarnya solusinya sederhana. Kegagalan yang sangat bisa diantisipasi dengan pengetahuan dan kerelaan berbagi pengetahuan. Aku marah dengan diriku sendiri. Aku menangis untuk diriku sendiri. Aku memaki. Kemana aku selama ini?

pic source

Dan pertanyaan yang lebih besar datang,

Pantaskah aku menjadi Srikandi Blogger?    
Sedangkan saudaraku sendiri gagal menjaga anaknya dari penyebaran video porno, padahal soal edukasi seks sejak dini bisa aku akses di internet dalam beberapa klik.

Pantaskah aku menjadi Srikandi Blogger?    
Sedangkan cucu pembantuku sendiri kehilangan air susu ibunya sejak bayi merah, padahal soal ASI eksklusif bahkan alat perah ASI modern berharga juta sering aku tuliskan di halaman diary digital.

Pantaskah aku menjadi Srikandi Blogger?    
Sedangkan gadis kecil yang setiap hari bermain di sekitar rumahku menjadi korban bullying sampai dendam, padahal soal bullying defense banyak  tertulis di dunia maya dan bisa aku akses kapan saja.

Pantaskah aku menjadi Srikandi Blogger?    
Sedangkan teman-teman dongeng kecilku gagal dijaga orang tuanya dari kejamnya tayangan televisi, padahal soal literasi media pernah aku teriakan di dunia maya.

Pantaskah aku menjadi Srikandi Blogger?    
Hari-hariku habis di depan komputer dan akses menuju dunia tanpa batas. Detik-detikku habis dengan tumpahan pengetahuan dari halaman halaman buku digital. Setiap hari, aku bernafas bersama sebuah komunitas perempuan-perempuan hebat.
Kumpulan Emak Blogger. 1490 perempuan Indonesia di seluruh dunia. Beragam latar belakang, pendidikan dan pengalaman. Berjuta-juta pengetahuan bisa aku keruk gratis dari apa apa yang mereka tuliskan. Setiap hari. Setiap waktu. Kapanpun aku mau.

Pantaskah aku menjadi Srikandi Blogger?    
Sedangkan predikat Srikandi ini akan diberikan oleh sebuah
istana pengetahuan yang selalu berpesan “Kami Ada Untuk Berbagi”. Aku. Aku adalah bagian dari kami. Berbagikah aku? Pedulikah aku dengan orang orang terdekat yang setiap hari bersentuhan denganku secara nyata? Adakah aku untuk mereka?

---

Ini tidak bisa diterima. Aku ada dan aku ambil bagian. Berdiri di 10 besar finalis Srikandi Blogger bukan lagi saatnya diam. Dipercaya menyandang 10 besar adalah sentilan nurani untuk berani bergerak. Berani ada. Berani Berbagi. Berani menggunakan dunia maya untuk bermanfaat bagi kehidupan nyata.

Apa yang hebat dari kelulusan ASI eksklusif anakku jika orang dekatku tidak tersentuh pengetahuan menyusui? Apa yang bisa dibanggakan dari keberhasilanku memasukkan pelan pelan edukasi seks ke kepala dan nurani adikku, sedangkan saudara kami adalah korban video porno? Apa yang keren dari keberadaanku di jejeran 10 finalis Srikandi Blogger jika keseharianku di dunia maya tidak pernah menghasilkan sesuatu yang berguna?

Jika aku menjadi Srikandi Blogger, aku akan berhenti diam. Jutaan pengetahuan di dunia maya dan beberapa manusia dikehidupan nyata, butuh perantara. 

Dan aku hidup bersama satu pesan,

Kami Ada Untuk Berbagi.