![]() |
“Pung, mumpung
kapalnya belum berangkat. Masih ada waktu buat cancel..”
Ifa, partner perjalananku, masih berusaha menawarkan opsi
untuk mundur. Melihat wajahku yang mulai pucat dan gerak-gerikku yang melemas.
Dia tau, aku ketakutan. Untuk seseorang yang semalam baru saja panas dingin dan
muntah-muntah, Ifa sadar betul naik kapal laut pagi itu, sama sekali bukan
pilihan yang baik untuk kami.
“Enggak, udah sejauh
ini.. Kita harus sampai ke surga!”
Aku menggeleng mantap, menolak dengan baik pilihan untuk mundur.
Semantap tanganku yang bergetar hebat, tanda kalau tubuhku betul betul tidak
siap. Kepalaku tenggelam dalam lipatan tangan, aku mengatur napas satu dua. “Pasti bisa.. Pasti sampai..” cuma itu
mantra yang aku punya.
***
