Saya ingat betul, dulu waktu kecil, Mama pernah mengajak melihat Papa latihan di Mega Mendung, Jawa Barat. Katanya, kalau Papa mau kerja, Papa harus latihan dulu di sana. Setiap sore, pemandangan yang saya lihat adalah Papa saya direndam di sungai kotor sambil dimarah-marahi. Saya kecil selalu bertanya, “Papa dimarahin terus kenapa gak melawan? Kan Papa sama teman-teman gak salah apa-apa”, dan laki-laki dengan badan bau lumpur itu selalu menjawab “Tadi gak dimarahi, tapi Papa lagi diajari supaya kuat dan gak cengeng. Kalau lemah dan cengeng, Papa sama teman-teman gak bisa kerja.”. Jawaban itu terus menggantung di kepala saya sampai akhirnya usia mengantar saya pada pengertian, bahwa Papa dan teman-temannya adalah pahlawan perbatasan. Mereka harus kuat, karena mereka harus berjuang.
Sekarang, Papa sudah pensiun. Beliau adalah pahlawan bea
dan cukai paling keren yang saya kenal. Dia resmi diterima menjadi pegawai bea
dan cukai tahun 1990, tepat saat saya lahir. Kemudian pensiun saat saya sudah di
bangku kuliah. Dua puluh dua tahun lebih, Papa mengabdi untuk lalu lintas
perdagangan Indonesia. Dua puluh dua tahun lebih, Papa menjadi pahlawan. Papa
adalah inspirasi yang membuat saya bangga akan mereka-mereka yang bekerja dan
mengabdikan diri mengawasi perbatasan demi Indonesia. Direktorat Jenderal Bea
dan Cukai (DJBC).