Pungky Prayitno @ 2013. Diberdayakan oleh Blogger.

Musnah! Keperawannan Tinggal Istilah







kami jalang, atau kalian yang bajingan..


Ini tentang kegelisahan. Pertanyaan soal kehidupan yang tak pernah terjawabkan. Entahlah, mungkin aku yang terlalu malas mencari seonggok jawab atas seabrek pertanyaan. tentang jaman. Tentang keperawanan. Tentang kehidupan.

Kegelisahan yang lahir dari perempuan tentang perempuan soal kehormatan.


Ini jaman kenapa ?

Kenapa perempuan perempuan masa kini sibuk mempertontonkan tubuhnya dijalan jalan. Di mall mall, di tempat tempat bermain, di trotoar, di foto profil situs situs jejaring social , di atas motor dan mobilnya. Ah dimanapun.

Rok mini, celana ketat jauh diatas lutut, baju terusan cantik yang berhenti di beberapa centi setelah celana dalam, baju tipis aduhai transparan, tali bra warna warni yang nyaris terlihat seperti gantungan handphone, tidak ketinggalan jalan menggak menggok pletak pletok seakan akan lupa kalau pakaiannya saja sudah mengundang perhatian.

Lalu salah siapa kalau akhirnya mereka kehilangan keperawanan ?
Mereka yang jalang, atau memang para hidung belang itu yang bajingan ?


Ini jaman kenapa ?

Kenapa sampai ada situs-situs dunia maya yang menjual belikan keperawanan. memangnya kacang. Seenaknya di lelang, ditawar lalu dibuang jika sudah digunakan. Dan sialnya, ada saja perempuan perempuan yang menjajakan keperawanannya. Menawarkan diri seolah-olah mereka memang benar barang dagangan. Berlomba lomba terlihat paling suci karena tau kesucian mereka mahal dibeli. Memajang foto paling lugu agar terlihat belum pernah ini itu. Tawar menawar selangkangan dengan para pria kehausan yang entah bagaimana wajah dan kelaminnya. sekarang harga diri dan kehomatan bisa diperjual-belikan.

Apa memang harga keperawanan sudah mendarat di lembaran uang ?
Sayang keperawanan tidak bisa digadaikan. Sekali ditukar uang, ya sudah melayang.


Ini jaman kenapa ?

Kenapa perempuan perempuan masa kini rela memberikan keperawanannya untuk pasangannya. Mereka yang bahkan jauh dari jenjang pernikahan. Hanya dengan embel-embel cinta dan janji manis tentang masa depan. Bahkan banyak yang tanpa iming apa-apa. Dengan sedikit rayu maut si pemilik label ‘pacar’. Tidur bersama tanpa busana seakan pelaminan pernah disinggahi berdua. Bercinta sesukanya seolah lupa dengan pesan manis orang tua “jaga diri ya..”.

Lalu kenapa aborsi ketika Tuhan benar benar mengikat dengan janin ?
Kenapa bunuh diri ketika si lelaki pergi dan keperawanan tinggal pemanis kata “pernah”



Ini jaman kenapa ?

Kenapa kumpulan perempuan muda itu asik membanggakan gaya bercinta mereka. Terlihat lupa kapan terakhir mereka membanggakan keperawanannya. Laki ini itu sana sini disana disitu. Bahkan tak ingat lagi berapa jumlahnya. Tertawa ketika bercerita tentan ceceran sperma diatas rapor merah mereka. Prestasi katanya.

Lalu kenapa si hidung belang yang diteriaki bajingan ?
Kucing mana yang tidak lahap ketika ujung mulutnya disodorkan ikan.

Ini jaman kenapa ?

Kenapa perempuan-perempuan berseragam rela mengumbar selangkangan dalam kotak video digital. Posisi sana sini macam robot simulasi. Rok biru sampai abu-abu adu lugu agar rekamannya bisa tersebar ke semua penjuru. Seperti lupa tentang mengejar cita-cita. Seperti tidak peduli orang tua pernah bercerita soal sekolah dan mimpi.

Inikah tuntutan jaman yang sudah dilabelkan “edan” ?
Atau jangan-jangan pendidikan tidak pernah memperdulikan persoalan selangkangan ?

Ini jaman kenapa ?

Kenapa kaum adam itu tidak sedikit saja menghormati kehormatan keturunan hawa. Sedikit menjaga kelaminnya dan membiarkan perempuan tetap perawan sampai waktunya Tuhan menyodorkan pernikahan. Setidaknya menghargai mereka sebagai sesama manusia.


Apa karena mereka benar bajingan ?
Atau salah sendiri kami jalang.



Kamu.
Biarkan janinmu menjadi manusia dan menyaksikan betapa ibunya korban keganasan jaman. Biarkan nadimu tetap berdenyut dan semua orang tau kamu hidup diatas rasa depresi karena kekasihmu pergi dan kamu tidak suci lagi. Biarkan pendidikanmu sampai pada akhirnya dan nilai-nilaimu menjadi saksi bagaimana kamu berjuang untuk angka angka itu dengan tetesan darah, keringat dan ovum mu. Biarkan mereka memperkosamu dan kamu menjadi bagian dari deretan selebriti berita kriminal.

Agar satu dunia melihat, kamu menjadi bukti keperawanan yang tinggal cerita.




Ruang. 12 february 2010

.Pungky Prayitno.


----
tulisan lama. posting ulang dari kompasiana

6 komentar

  1. Mampus...

    Kritis, Cerdas, Menarik.

    Nb: solusinya...

    BalasHapus
  2. tulisan yang bagus sist...
    it's the fact!!!

    BalasHapus
  3. merinding saya dibentak-bentak pungky...^_^

    *saluutt deh pung...:)

    BalasHapus
  4. Pertanyaan dan penyataan yang bagus, semoga menginspirasi banyak orang :-)

    BalasHapus