Pungky Prayitno @ 2013. Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Galaksi Selangkangan. Tampilkan semua postingan

Kehamilan di Luar Pernikahan dalam Semangkuk Bubur Ayam



Pedih sekali rasanya membaca berita tentang aborsi yang dilakukan sepasang muda mudi di Cilacap. Betapa tanggung jawab menjadi ketakutan tersendiri bagi mereka yang terlanjur melakukan hubungan terlarang berakhir kehamilan tanpa pernikahan. Tentu saja ini bukan kasus yang pertama, beberapa bulan lalu halaman-halaman surat kabar sempat juga memberitakan pembunuhan bayi yang dilakukan ibu dan kakeknya sendiri. Mundur beberapa bulan lagi, sederet kasus aborsi dan pembunuhan bayi oleh orang tua sendiri menjadi pemandangan cukup sering di koran. Pembunuhan yang bagi banyak perempuan apalagi ibu, sanggup membuat hati tersayat-sayat.

Karena Pertumpahan Lendir Tak Bisa Dipandang Sebelah Mata

Kalau orang yang membaca Galaksi Pungky sejak 2011, pasti tau, di blog ini dulu pernah ada label Selangkangan. Label ini berisi catatan-catatan tentang hal yang kata orang-orang saru, tabu, jorok, gak sopan, dan negatif-negatif lainnya. Aku pernah bermimpi menulis buku tentang sisi lain kehidupan pekerja-pekerja seks, gak sekedar mengangkat fenomena keberadaan mereka yang lantas salah, dosa, sampah masyarakat, dlsb. Aku bermimpi menulis buku tentang mereka dan detil-detil hidupnya yang jarang kelihatan orang, bagaimana mereka berbahagia, misalnya. Atau sesederhana, apa yang membuat mereka tetap semangat bangun pagi lalu mandi setiap hari.

Petualangan Finansial Pekerja Seks Komersial

Menjadi perempuan pekerja seks, seringkali dianggap pekerjaan yang mudah dan cepat menghasilkan uang secara instan oleh banyak orang. Seorang perempuan pekerja seks, akan mendapatkan banyak uang hanya dengan bermodalkan tubuh mereka. Banyak orang yang tidak tau, betapa menjadi perempuan pekerja seks adalah tidak mudah. Tidak asal bertubuh seksi dan mau ditiduri.

Malam itu, aku berkunjung ke kost salah satu wanita pekerja seks tidak langsung di Baturraden. Dia seorang pemandu lagu di sebuah tempat karaoke terkenal di Purwokerto. Tentu saja, bukan sekedar pemandu lagu. Pemandu lagu kawasan portisusi jelas memiliki pekerjaan ‘tambahan'.

Dia bercerita panjang lebar kepadaku tentang pekerjaan dan penghasilannya. Dalam dua minggu, tempat karaoke dimana dia bekerja membayarnya sampai di angka dua juta tujuh ratus ribu rupiah. Aku sempat ternganga. Berarti dalam sebulan, perempuan ini dapat menghasilkan uang sebanyak lima juta rupiah lebih hanya dengan menemani tamunya karaokean. Lalu aku bertanya, dihabiskan untuk apa saja uang sebanyak itu hanya untuk hidup satu orang?


Dan dimulailah sebuah petualangan finansial seorang perempuan pekerja seks yang belum pernah aku dengar. Gajinya memang banyak. Lima juta rupiah lebih untuk satu bulan. Namun hidupnya menuntut uang yang lebih banyak. Beberapa rupiah dari uangnya akan ia kirim untuk keluarganya di kampung setiap bulan. Sisanya untuk keperluan hidupnya seperti makan dan lain-lain. Aku masih berpikir. Tentu saja sisanya masih sangat banyak. Biaya hidup di purwokerto tidak akan sampai berjuta-juta untuk satu bulan dan hanya satu orang. 

Tenyata tidak berhenti sampai di situ.

Dia bercerita, setiap bulannya, dia dituntut untuk membeli gaun dan sepatu baru demi pekerjaannya. Belum lagi make-up, perawatan tubuh dan tetek bengeknya. Persaingan menjadi primadona di tempat karaoke menuntut dia harus selalu tampil menarik dan tidak membosankan. Baiklah. Keperluan yang menurut aku tidak penting ini tidak murah. Namun apa mau dikata, pekerjaan menuntutnya demikian. Tampil menarik dan tidak membosankan adalah senjata para pemandu lagu agar tetap dilirik tamu. Mesin penghasil uangnya.

Dia berhenti cerita. Mengambil ponselnya dan sibuk berkirim pesan dengan entah siapa. Sampai tiba-tiba dia mengarah padaku dan berbicara “Pulangnya nanti aja ya.. Aku gak kerja malem ini. Udah ijin”. Kontan aku bertanya “Emangnya gak apa-apa?”. Dan dia menjawab, bahwa ditempatnya bekerja, bolos kerja semalam adalah empat ratus ribu rupiah. Setiap pemandu lagu yang tidak masuk kerja, harus mengganti rugi kepada tempat karaoke sebesar empat ratus ribu rupiah per malam. Bukan angka yang kecil untuk sekedar tidak masuk kerja satu kali. 

“Nanti dipotong gaji. Tiap gak masuk empat ratus ribu” tambahnya. 

Kepalaku menghitung lagi. Baiklah, gaji lima juta sebulan akan terpotong empat ratus ribu setiap tidak masuk kerja.

Kami melanjutkan obrolan. Aku penasaran, bagaimana kalau ada pemandu lagu yang sakit? Apakah hal yang di luar kuasa manusia tetap harus diuangkan sebegitu besar? Kemudian dia menjelaskan, bahwa dengan surat dokter, maka akan diberikan ijin tidak bekerja selama tiga hari. Dengan kata lain, surat dokter hanya berlaku tiga hari. Apapun sakitnya. Selebihnya empat ratus ribu rupiah lagi per malam.

Sambil kami bercerita, seorang temanku menanyakan tentang biaya kamar kost yang ia tempati. Harga sewanya empat ratus ribu rupiah per bulan. Dan ternyata itu tidak ia bayar dengan uangnya, melainkan ditanggung oleh seorang laki-laki yang menjadikannya simpanan. “Kalau harus bayar kamar kost juga, ya gaji aku mana cukup..”, dia menambahkan. 

Lalu aku berpikir, berarti lima juta untuk satu bulan adalah banyak. Namun kebutuhan hidup seperti makan dan lain lain, keperluan kecantikan demi tampil menarik, kirim uang ke kampung, biaya ganti rugi kalau tidak masuk. Jika semuanya sudah dijadikan rincian pengeluaran, berarti lima juta untuk satu orang selama satu bulan adalah... pas.

Aku kemudian berpikir lebih jauh. Bagaimana nasib para perempuan pekerja seks lain yang hidupnya tidak seberuntung perempuan ini? Mereka yang penghasilannya sebulan tidak seberapa, yang hanya mampu mangkal di pinggir jalan karena tidak ada modal ini itu untuk menjajakan diri di tempat-tempat portitusi bergengsi, yang tetap harus tampil cantik dan menarik, yang harus menyisihkan uangnya untuk keluarga di kampung. Mereka yang juga butuh uang untuk makan, untuk tinggal, untuk hidup.

Banyak orang yang mengira, bahwa menjadi seorang perempuan pekerja seks adalah pekerjaan yang sangat berlimpah uang. Hanya menjual tubuh seksi lalu dibayar tinggi. Bisa menjadi kaya hanya dengan sekali dua kali menduri pria. Namun kenyataannya tidak demikian. 


Purwokerto, 28 Januari 2014


Hidup tetap berlaku adil dan rata pada siapa-siapa. termasuk pada perempuan-perempuan yang menjajakan tubuhnya.

Bibirnya Bergincu, Kelaminnya Beradu (2)


Sekarang dia bergincu. siap untuk beradu. Birahinya meninggi. Kelaminnya menganga minta lagi. Si lelaki siap menyetubuhinya walau hanya lewat kotak maya 10 inci. Dia mempreteli pakaiannya sendiri.

“jangan!”

“kenapa?”

“karena kamu tidak punya alasan”

“untuk bahagia”

“kamu tidak bahagia!”

“dia!!”

“tidak! Tidak dengan cara ini!”

“dengan apalagi? Jangan lupa dia laki-laki”

“jangaaaaan!! Kamu bukan perempuan murahan!”

“aku tau dia siapa dan bagaimana. Dia bukan bajingan. Dan tidak pernah ada kata murahan”

“jangan tolol!”

“jangan berisik!”


Sepi pergi karena menyerah, komprominya kalah. Dia bertelanjang diri. Laki-lakinya menikmati. Dengan tanpa busana dia melayani laki-lakinya dalam kotak maya. Nafsu si lekaki menjadi. Terbang bersama birahi yang terus meninggi.

Ini atas nama cinta. Ini atas nama cinta. Ini atas nama cinta
Mantra itu berulang pasti dalam hati. Tinggal itu yang dia punya. Dia percaya kebahagiaan lelakinya adalah obat terbaik untuk perihnya. Untuk luka parah yang terus mendesak jiwanya menyerah. Bukti bahwa cintanya tidak pernah kemana-mana. Mimpinya pergi, hatinya mati, tapi cintanya tetap disini. Untuk si laki-laki terakhir yang sekarang sedang…..

…………………………………… aaaaah! orgasme luar biasa.

“I love you..”
Sekarang dia menyingkirkan kamera yang sejak tadi menyetubuhinya. Air mata nya ikut ambil bagian dalam skenario malam ini. Entah. Ini bahagia atau apa. Dia cuma tau malamnya digerayangi cinta.

Kembali ke kotak 10 inci. Laki-lakinya masih menghujani dengan sejuta kata mesra. Tak ambil peduli. Dia sedang tidak butuh dipuji. Dia Cuma sedang menikmatinya cintanya, bahagianya, birahinya, air matanya.

---

Pagi. Kotak maya kembali menghubungkan dia dengan si lelaki. Komunikasi setiap dia mau adalah obat untuk serbu rindu.

“sayang, banyak orang disini”

“oh, ya udah. Nanti lagi ya”

“maksudnya, kamu jangan kayak tadi malam. hahahaha”

“percaya diri banget kamu ngomong kayak gitu”

“siapa tau, tau-tau webcamera nya aktif lagi. Bisa gawat”

“haha. emangnya kamu pikir aku ini apa!”




Layarnya mati.
Hati nya lebih lagi.






Depok. 14 september 2010
 ------
teman-teman blogger yang baik, kemaren ada yang nanya sama aku tentang kelanjutan cerita Badut Selangkangan yang pernah aku tulis dulu dan masih besambung sampe sekarang. mmm, bukannya gak mau ngelanjutin. tapi cerpen yang satu itu lagi dilema. antara di publish terusannya di blog, atau biarin dia berjalan dengan jodohnya ditempat lain. eemm, doain aja deh ya. semoga kalian yang penasaran bisa cepet baca lanjutannya. entah dalam bentuk postingan blog, atau dalam bentuk lain. semoga :)

Jalang Petang

Petang.

Ayah selalu pulang. Bau parfum si jalang juga selalu ikut pulang.

Tak lama pasti terdengar ibu susungukan. Pertengkaran. Skenario yang sama terulang, isak tangis menggerayangi setiap pojok ruang yang ini. Jeritnya memekakkan ruang mimpi. Kesetiaan berbalas bau parfum jalang, setiap petang.

Dan setelahnya namaku dibawa-bawa. Bagaimana anak kita, katanya. Kebahagiaan keturunan pertama selalu jadi dilema. Masa depan putri satu-satunya setengah mati jadi alasan bertahan bersama. Sedang yang punya nama batinnya menggila. Lupakan tentang kebahagiaan dan masa depan. Itu jauh! jauh! Yang punya nama hanya sedang ingin terjaga. Bermimpi tanpa kengerian setengah mati. Dikamar sebelah, rumah rahimku meronta. Di ruang yang sana, ibuku menjerit sakit luar biasa. Apa daya ini Tuhan ciptakan raga. Jangankan membela, bicarapun aku masih mengeja. Sang umur masih belum beranjak dari angka tiga.

Dan pagi,

ibu pergi.

Semalam yang terakhir sakitnya di puncak tertinggi. Ibu pergi. Itu obat terhebat untuk luka yang terus menghujat.
Aku masih terjaga mimpi di ruang yang sini.

Petang.

Matahari belum seratus delapan puluh derajat tenggelam. Sudah aku didalam ruang dengan balutan tembus pandang. Bersama sebotol bir dingin dan rokok lima batang, siap untuk sentuhan tubuh yang itu. Lelakiku. Skenario yang ini sudah ku atur sedemikian rupa. Usia ku yang menapak kepala dua adalah saatnya meluapkan segala atas rasa. Dendam. Cuil kebahagiaan. Puing kepuasaan. Sakit tertinggi atas dia yang pergi.
Kecup manis di pipi kiri menjadi pembuka pintu mati sang hati. Senyum birahi mengawali gerak sang jantan atas setubuh perawan yang sudah lagi tanpa balutan. Mendekat. Melumat. Dan lalu menjalani panjang skenario malam laknat.

Darah pelepasan kehormatan jadi saksi bagaimana malam ini sang hati telah menjadi. Entah mati, atau malah lebih hidup lagi. Tetes saksi bagaimana seonggok mimpi pernah ikut pergi. Cecer merah atas amarah yang membuncah pada dia yang disebut ayah. Cairan kepuasaan manusiawi bersama ruang dalam yang nyeri. Menetes! Mengalir dalam segala rasa yang tak berupa. Dan lalu beriringan dengan perih yang seketika berirama rapih.

Perih parah!
Amarah!
Berdarah!

Aku pasrah,

mendesah.

Hari ini. Nikmat ayah semalaman juga aku rasakan. Batin yang pernah gila kini terpuaskan puncak orgasme jiwa raga. Sumpah serapah untuk ayah, tersalurkan lewat engah desah. Luka yang dibawa pergi kini aku seret kembali bersama pelepasan kesucian diri. Perih ini biar aku yang bawa. Sakit ini biar aku yang rasa. Semoga tertinggal sepaket bahagia untuk ibu disana.

Dan lalu Ayah murka. Putri satu-satunya tak lagi punya nama. Tinggal onggok nyawa tanpa asa. Kesuciannya jadi cerita, pernah ada. Lalu Ayah malu. Katanya keturunannya tak tau malu.

Ah.
Kenapa baru sekarang berpepatah soal malu? Dulu hati ini lebam membiru. Sedang Ayah tak pernah mau tau.
Sakit ibu, kini aku tau. Dan marah atas ayah, sudah.

Petang.

Aku selalu pulang. Bau parfum jalang juga ikut pulang.


taken with Nikon D60/18-70mm



Purwokerto, agustus 2010

prosa lama bersemi kembali :)






---
eh. udah tanggal 5 juli nih. berarti 5 hari lagi giveaway Galaksi Pungky ditutup. jangan lupa ikutan yaa. peserta yang tulisannya udah masuk, nanti yaa aku list di postingan selanjutnya. besok hari terakhir UAS. mau berjuang dulu. hehey muah! :)

Tentang



Dan lalu kita berpandangan. Puncak orgasme menyatukan kita dalam pelukan hangat di kotak 2 x 3. Tanpa kata. Aku cuma sanggup berair mata. Iya. Aku sangat bisa memastikan kalau kurang dari enam puluh detik sejak aku menangis, kamu pasti bertanya kenapa. Dan aku menjawab geleng kepala sampai enam puluh detik berikutnya.

Aku harus memulai dari mana? Enam puluh detik ku dimulai. Berfikir. Harus dapat definisi yang tepat tentang kenapa aku memulai acara istirahat malam ini dengan air mata. Malam ini akan ada apa-apa. Air mataku terlanjur memulai apa-apa. Tidak mungkin jika akhirnya yang terjelaskan adalah tentang yang sebenarnya. Tentang aku yang terserang cemburu atas kamu dan masa lalu. Atau tentang takut tak lagi menjadi satu-satunya di hatimu. Persaingan dengan mereka membuatku kelimpungan entah bagaimana. Tidak. Itu memalukan.

Dijelaskan pun tidak akan pernah mengubah apapun. Hanya akan membuat acara istirahat kita semakin tidak dimulai. Toh cemburu ini tidak pernah mempengaruhi apapun. Cuma ketakutan berlebihan atas perasaan yang belum siap disakiti dan kehilangan. Menyoal cemburu tentang riwayat selangkanganmu pun tidak akan membuat segalanya lebih baik. Perempuan-perempuan yang pernah meniduri dan ditiduri kamu adalah urusan mu. Bahkan semuanya sudah tutup buku. Kenapa lagi aku harus membuka satu-satu demi perasaan yang bahkan aku belum yakin kalau ini bisa disamadengankan sebagai cemburu.

Enam puluh detik ku habis.

“aku cemburu”

“atas?”

“semua nama di masa lalu kamu”

Aku diam. Menghunus diri sendiri dengan pedang kebodohan. Ini akan semakin rumit. Rumit. Harusnya bukan itu yang keluar menjadi definisi. Kenapa harus kejujuran yang sok-sokan hadir sebagai pahlawan.

“bisa apa? Itu kan masa lalu”

“aku cuma cemburu. Aku terlalu pengecut untuk nerima masa lalu seorang kamu. Soal selangkangan itu urusan hati, sayang. Ada perasaan-perasaan gagal mengerti ketika aku sadar kalau bukan aku yang pertama”

“kenapa kamu sibuk dengan masa lalu sedangkan kita masih akan punya masa depan? Kamu terlalu berhasil menyakiti diri kamu sendiri”

Aku mengangguk pasrah. Bisa apa lagi? Aku memang sedang membekap perasaan ku sendiri dengan kepala yang susah mengerti. Iya susah, dan aku gagal untuk selalu mencoba dua kali. Menyesal tentang masa lalu kamu adalah hal paling bodoh yang pernah terjadi dalam kepalaku. Memikirkan sampai seribu kali pun, kamu dan masa lalu akan tetap begitu. Menuntut menjadi yang pertama untuk kelaminmu adalah kemustahilan luar biasa. Seperti menuntut hukum dari orang mati. Semuanya menjadi jelas. Tapi tidak pernah mengubah apa-apa. Dan tidak pernah bisa mengubah apa-apa.

“aku sering menuntut pada Tuhan. Kenapa bukan aku yang pertama untuk kelaminmu, dan kamu yang pertama untuk kelaminku”

“kenapa harus menuntut?”

“karena sadar kalau aku bukan tubuh pertama yang kamu telanjangi itu nyeri! Bahkan kamu pernah memeluk mesra tanpa busana perempuan selain aku! Sayang, selangkangan itu soal hati. Soal helai tipis di atas perasaan. Bentuknya entah apa, tapi ketika terbelah dua atau tiga menghasilkan efek luar biasa”

“ikhlas sayang… ikhlas.. tuhan selalu menjadikan apa yang memang seharusnya terjadi”

Air mataku menyerobot situasi. Lagi-lagi Gagal mengerti. Padahal semuanya adalah tentang aku, kepala dan hati. Bukan tentang kamu, masa lalu dan penuntutan atas entah apa. Aku Cuma belum mengerti. Dan itu satu-satunya alasan untuk detik ini aku mengerti.

Tubuh kita terpaut hitungan mikrometer. Cium di kening mengantar aku ke galaksi mimpi.


Purwokerto. 2010

prosa selangkangan yang ditulis lebaran Idul Adha taun lalu. maaf repost ;)

PSK, Mahasiswa, dan Bahagia

dok. pribadi

Kemarin siang, saya punya niat untuk menghabiskan hari dengan ikutan acara sharring sebuah komunitas musik, lalu pulang kekosan, lalu ngeblog lalu pacaran lalu tidur. malam minggu. rencana saya hanya mentok di acara pacaran dan tidur. karena buat saya, hari sabtu itu hari bermalas-malasan sedunia. hahaha alibi. sebenarnya saya (sangat) sering mati gaya di hari sabtu. kuliah kosong. kegiatan kosong. dan yah, berakhir dengan leyeh-leyeh di kosan seharian. berujung murung, bosan dan selalu menuntut sabtu untuk cepat lewat. skip! buat saya itu jauh lebih baik.

tapi sabtu ini tentu saja lain. karena kalau tidak lain tidak akan saya tulis. sabtu siang ini seorang teman mengirim pesan digital. katanya, dia mengajak saya untuk ikut ke acara vct mobile di Gang Sadar, Purwokerto. hah! Gang Sadar. tempat porstitusi nomer siji di kota tempat saya berdomisili. saudara jauh Gang Dolly. vct mobile sendiri adalah pemeriksaan kesehatan terhadap para pekerja seks komersial. untuk mengetahui status hiv aids pada perempuan-perempuan pekerja disana, kata teman saya.

singkat cerita, sabtu siang ini saya berada di Gang Sadar. di aulanya. saya tidak ikut andil dalam acara. tidak mengerti apa-apa. saya cuma diperbolehkan mengambil gambar asal tidak terlalu terang-terangan. maklum, mereka agak risih dengan orang-orang yang menemui mereka dengan membawa kamera. dan disela-sela mengabadikan gerak gerik mereka. saya sempatkan untuk bercanda dengan beberapa mereka.
yap. cerita tentang psk memang klasik. lama-lama bercanda dengan mereka pasti berujung obrolan hati. istilah kerennya curhat. satu dua dari mereka bercerita pada saya tentang kenapa dia ada di sana. walaupun beragam, tapi alasan kebanyakan mereka tetap berujung pada satu sama dengan. ekonomi.

saat asik bercanda dengan seorang psk, seorang perempuan lain datang pada kami. tubuhnya kecil, bahkan saya sempat mengira dia masih umur belasan. wajahnya mungil dan yang saya suka dari dia adalah polahnya. diantara psk lain yang hanya duduk menunggu panggilan tes, dia sibuk kesana kemari hanya untuk meledek orang lain atau sekedar curhat pada kami tentang hal-hal ajaib. dia mengaku dua puluh tahun. bisa sampai di sana karena satu adiknya yang harus sekolah dan satu adik lain yang harus masuk SMA.

saya cukup lama berbicara dengan dia. bahkan dia sempat meminta saya memotretnya disaat temannya yang lain menatap ketus ketika saya mengangkat kamera. dia bilang, “aku baru bonding rambut nih mbak.. ayo dong difoto”. hahaha sempat geli sendiri melihat dia bergaya. dia sangat terlihat belia. bau muda yang tercium khasnya. setelah puas bergaya, dia lalu mengajak saya untuk ke sebuah diskotik, katanya biar saya gaul. hahahaha saya habis tertawa dibuatnya. saya sempat bertanya, apa dia bertingkah yang sama ketika sedang bersama tamunya. dia mengangguk sambil tersenyum bangga. lalu dia bilang, hanya bajunya yang beda. dia terlihat seperti anak kecil karena saat itu dia menggunakan kaos dan celana pendek. saya iseng tanya, “emang biasanya pake baju apa yang gak keliatan kayak anak kecil?”. dia menjawab sambil mengedip-ngedipkan mata. “biasanya kan gak pake baju..”. hahahaha saya tidak percaya kalau gadis kecil yang lucu ini seorang psk.

ketika acara hampir selesai. saya dan dia bertukar nomer ponsel. dan tentu saja, saya ingin bertukar facebook dengan dia. karena beberapa temannya dengan senang hati memberikan nama facebook mereka pada kami. dia menggelengkan kepala, “aku gak punya facebook mbak, gak punya tweter. gak suka!”. saya penasaran, “loh? kenapa? kan biar gaul..”. dia menjawab santai, “kalo aku punya fesbuk, aku jadi gak menikmati hidupku disini mbak. temen serumah aku punya fesbuk. tiap hari fesbukaaaan aja, gak nikmati hidupnya dia disini”. saya mengeryitkan dahi. “emang kamu nikmatin hidup kamu disini?”. dia malah balas bertanya. “emang mbak gak nikmatin hidup jadi mahasiswa?”. hahahaha. saya diam. kalah.

saya lalu pulang. sampai kosan saya tidak bisa berhenti tersenyum heran. bagaimana bisa seorang psk seperti dia lebih bisa menikmati hidup dari pada mahasiswa seperti saya. uang dari papa datang setiap minggu. saya cuma harus kuliah dengan makanan gratis, kamar kosan gratis, facebook gratis bahkan pacaran gratis. tidak harus setiap malam menjajakan diri pada banyak laki-laki demi nasi. tidak harus janjikan kelamin agar si pacar mau apel di malam minggu. tidak juga harus malu ketika ditanya apa kerja kamu. tidak harus menghabiskan muda dengan menjadi psk.

dok. pribadi

Purwokerto, 12 Juni 2011

saya mahasiswa. anak papa yang cukup uangnya. harusnya saya bisa lebih bahagia. harusnya lebih menikmati setiap detik hidup yang saya punya.

harusnya.
----------- 

tulisan ini semalem sempet jadi headline di kompasiana.com. hahahaha norak.
dan maklum ya kalo bahasanya agak-agak kaku. di kompasiana yang baca kebanyakan bapak-bapak ama ibu-ibu sih. kan minta digaplok banget kalo disono pake guweee atau eloooh. nyahahaha gak penting.

Untuk Dia. Yang Namanya Disamadengankan Selangkangan oleh Banyak Manusia


Lastri...





Lastri. Kamu tau? Di sini, jauh dari tempat dimana kamu berdiri detik ini. Ratusan, bahkan ribuan namamu dituliskan pada kisah-kisah tanpa tuhan. Atas nama kesucian desa yang dibeli laki-laki dengan jas rapi. Namamu. Namamu Lastri, disebut disini sehari tujuh kali.

Lastri. Kamu tau? Di kota. Ratusan kilometer dari tempat kamu sibuk berladang dengan pakaian seadanya. Banyak yang menanti kamu benar-benar akan datang. Mengelap keringat bau ladang. Lalu bertelanjang. Memuaskan para hidung belang yang kesetanan.

Lastri. Sini. Tengok sebentar kemari. Ada rayuan luar biasa dari para pengobral cinta pemilik timbunan harta. Mereka mau membuatmu tak lagi berladang, katanya. Ah. Sini Lastri. Saksikan bagaimana lekuk tubuhmu dibayar mahal walau Cuma gambar.

Lastri. Makan apa kamu -hari ini? Tidakkah kamu ingin beberapa menit mampir kemari? Di sini tidak ada nasi. Tidak juga makanan basi. Yang terhidang untukmu adalah berpiring-piring kekuasaan yang sanggup menyelamatkan kamu dan keluargamu dari kemiskinan. Kau dibeli mahal,sayang.

Lastri. Tidakkah penutup tubuhmu sudah compang? Habis dimakan keringat pematang. Bau kotoran ternak yang membuat tubuhmu nyaris tak lagi bisa jadi hidangan. Sini Lastri. Mainlah barang sehari. Namamu jadi komoditi kelas menteri. Dan tentangmu Lastri, dijadikan peri dalam bayang-bayang birahi para laki-laki.
Lastri. Kamu dengar? Betapa di sini ribuan desah napsu menyebut satu. Namamu. Nama yang dinyanyikan ibumu bersama sapi-sapi pembajak padi. Nama yang disebut dalam doa bapak sebagai putri satu-satunya. Nama yang dijadikan putri seksi paling dicari.

Lastri. Siapa kekasihmu? Apakah tidak jengah kamu dengan pemuda desa? Begitu-begitu saja. Masa depannya pun selalu sama. Mentok di desa atau jadi TKI di negara tetangga. Kemari, perempuan! Di sini banyak tampan yang akan memuaskan kamu tanpa pandang. Para pejantan dengan beragam masa depan. Di sini Lastri. Ribuan laki lajang menantimu datang.

Lastri. Ku ceritakan kepadamu tentang kota. Tempat bapak pernah bercerita padamu soal kuasa. Soal manusia yang tak bernyawa manusia.

Ini kota, Lastri. Tempat jauh yang sering memuja namamu penuh. Tempat para istri menghujatmu atas namamu yang dijadikan fantasi para suami. Tempat kamu, disiapkan untuk menjadi permaisuri paling seksi satu negeri.

Di sini, Lastri. Tempat aku menulis ini. Ada ribuan kisah yang menuliskan namamu sebagai tokoh utama. Dan semuanya sama. Kamu pelacur desa paling juara!

Lastri.. sini! Bunuh diri.
—–

Purwokerto, 05 mei 2011

Pecinta Sesama

karena
jika ditanya kenapa, setiap kalian pasti memberikan jawaban sama: kelainan jiwa. lalu kalian berdalih bahwa semuanya adalah tentang kelainan tidak bisa kalian kendalikan. takdir tuhan. masa mau melawan? dan sisanya aku diam. menganggap perkataan kalian adalah alasan untuk aku ikut mengiyakan. oke. kelainan. siapa yang bisa mengendalikan ketika tubuhnya dijalar kelainan? tuhan yang memberikan demikian.

tapi
kalau kalian memang kelainan. seharusnya dunia kedokteran jiwa disibukan. penyakit baru sedang menjalar riang. memang dari dulu sudah diketemukan. bahkan sejak bencana kaum sodom digariskan tuhan, banyak manusia yang sudah dijangkit kelainan. tapi jaman sekarang? kelainan yang tiba-tiba menyerang sangat banyak orang, aku pikir bisa disebut sebagai penyakit baru. ada faktor x dari penyakit lama yang menular tanpa pandang siapa ke banyak manusia. dan hari ini kanan kiriku dengan tiba-tiba di dominasi mereka.
siapa-siapa mengaku cinta sesama.

atau
jangan-jangan ini adalah kenyataan tentang akhir jaman. karena dalam kitab telah tertuliskan, akhir jaman akan datang dengan jenis kelamin sama bercinta sebagai salah satu pertandanya. dua ribu dua belas tinggal tahun depan, kalau memang benar disana ada akhir jaman, berarti kalian hanya bagian dari pembuktian. atau jika akhir jaman masih datang kapan-kapan, anggap saja tuhan terlalu cepat membuat kalian sebagai bagian. kalian tetap pembuktian.

dan
aku heran. kalian senang sekali disebut kelainan. kalau memang itu kelainan, harusnya ada rasa malu untuk membuat semua orang tau tentang itu. atau memang jaman sudah berubah ya? aku saja yang terlalu menikmati pikiran orang lama. jaman sekarang mengalami kelainan adalah kebangaan. patut diketahui semua orang. buatku, kalian sedikit terlihat menjijikan. yang kalian nikmati itu jenis yang miliki. sudah punya sendiri. cari apa lagi?

iya
hidup itu pilihan teman. tapi pilihan bukan sama dengan bebas dari kodrat tuhan. dan hey, aku tidak sedang menasehati. menggurui apalagi. pilihanku mengomentari kalian, pilihanku menganggap kalian korban jaman. menganggap balik aku menjijikan pun itu urusan kalian. menganggapku sok tau pun suka-suka kalian. kita sama-sama punya pilihan. di tempat umum ini segala unek kupertontonkan. itu kuanggap bagian dari pilihan.

lalu
kalau memang itu kelainan. kenapa sekarang jadi menjamur seperti simbol baru ‘keren-kerenan’?

Jadi
sebenernya ini kelainan, tren, atau kenyataan tentang akhir jaman?


1297166399777854542
 
Purwokerto 29 januari 2011


untuk manusia yang merasa “kalian”. jangan marah. tulisan ini sama sekali bukan sedang menyerang. tidak juga sedang mengangkat bendera perang. ini murni curhatan!

“Silent Scream”, tentang Pembunuhan Paling Keji!

tinggal seonggok… (foto : printscreen film)


Film edukasi yang kontan membuat saya menangis susungukan. Bagaimana tidak. Film yang berisikan video USG seonggok janin dipertontonkan bersama pembunuhan (yang buat saya) keji !

Silent scream.
Tentang jeritan sakit setubuh janin yang tanpa suara. Menjadi korban kekejian ibunya sendiri. Menjalani eksekusi mati paling ngeri. Meronta dalam kesunyian rahim. Menjadi saksi bagaimana perempuan punya sisi lain yang tidak bisa di bisa di muliakan.

Silent scream.
Tentang pembunuhan terkeji. Menjerit sakit ketika besi tajam terus mengincar lehernya. Berusaha menghindari benda jahanam yang siap memisahkan kepala dan tubuhnya. Menyaksikan tangan-tangan diluar sana siap menjepit kepalanya dengan alat tajam. Menjerit hebat berharap ibunya memberi sedikit kasihan. Menjerit… ketika alat kedokteran super canggih menghajar lehernya. Memutuskan tubuh mungil dan kepalanya. Sampai selang kecil ikut masuk ke dalam rumah rahimnya. Dia menjadi seperti debu rumah tangga yang terhisap penyedot debu. Tersedot habis selang jahanam yang siap membuat tubuhnya tinggal onggokan tanpa bentuk.
Semuanya dalam BISU.

Silent scream.
Terimakasih membuat saya menangis. Menyadari banyaknya pembunuhan keji yang dilakukan perempuan-perempuan pada darah dagingnya sendiri. Menghabisi nyawa kecil yang siap tersenyum bangga memanggilnya bunda. Membunuh janin mungil yang mungkin akan menjadikan dia sosok hebat di headline halaman maya.
Hitung berapa juta puisi yang berjudul ibu. Hitung berapa juta tulisan “terimakasih ibu”. Terlalu banyak anak di muka bumi yang mencintai dengan sangat ibunya sendiri. Bahkan mengulang kata ibu tiga kali sebelum kata ayah seperti kata nabi.

Silent scream.
Terimakasih membuat saya membuka mata pada sekitar saya. Menampar saya pada realita yang akhirnya menyadari saya satu hal. “saya lupa untuk bersyukur pernah dilahirkan ke dunia”.
memberi saya satu cerita bahwa di sekitar kita ada berjuta-juta kasus yang sama. Janin-janin kecil yang mati di tangan ibunya sendiri.
Bahkan sebelum mereka melihat indahnya dunia. Sebelum mereka sempat membanggakan kata “bunda” kepada seluruh dunia.

Silent Scream.
Terimakasih membuat saya tergetar untuk ikut bersuara. Berteriak pada dunia bahwa pembunuhan itu terjadi dimana-mana. Sampai menyeret saya ke dunia maya dan mendapatkan fakta kalau kasus pembunuhan keji ini terjadi sekitar dua juta kali setiap tahunnya*. Berarti dua juta janin yang mati. Dua juta janin yang dibunuh ibunya sendiri. Bandingkan dengan korban Perang Vietnam yang hanya 58.151 jiwa, korban Perang Korea - 54.246 jiwa, korban Perang Dunia II - 407.316 jiwa, korban Perang Dunia I - 116.708 jiwa.
Pembunuhan ini bahkan lebih banyak menelan korban !!

Mungkin karena di dekat sini kasusnya sudah basi. Atau mungkin tidak penting untuk peduli. Atau karena perhatian sedang di sibuki skandal century. Atau karena televisi tidak pernah menguak kasusnya lagi. atau karena hati ini sudah mati.

Kita seakan di butakan dengan pembunuhan terkeji yang terjadi disana disini.

Disini. 11 maret 2010.

Dan pembunuhan terkeji itu bernama ABORSI !!

Bahasa Vagina Indonesia

tulisan ini akan diawali dengan kata : MAAF !
maaf kalau banyak kata-kata dan aneka bahasa yang berbau selangkangan. bukan maksud porno. tapi apadaya memang tulisan ini membahas tentang selangkangan dari sudut perbahasan!

okey. cekdisout!

————————————————

Indonesia. semua juga tau kalau negeri kita yang betapa-oh-indahnya ini sangat dan sangat mengedepankan itu yang namanya KESOPANAN!

Segala rupa sisi hidup masyarakatnya selalu memperhatikan unsur yang satu itu. mungkin karena negeri betapa-oh-indahnya ini ketimuran, mungkin karena kebiasaan nenek moyang atau mungkin juga faktor sok-sokan.
Yang jelas tetek bengek di negeri Indonesia ini mengedepankan sekali satu kata itu : SOPAN!
Dan karena mungkin-mungkin itulah kesopanan juga masuk menyusup menyungsep ke kancah perbahasaan negeri betapa-oh-indahnya ini.
Beda kasta beda bahasa, sama orang tua lain lagi ceritanya, dengan teman sebaya EYD kabur gak tau kemana, sama lawan woyooo saatnya absen kebun binatang ragunan, ngomongin selangkangan? aw. jangaaaaaaaaan!




Lalu dunia perbahasaan selangkangan kena imbas paling besar. Entah kenapa mengapa ada apanya, tapi perbahasaan selangkangan negeri ini jadi minder gak karuan. Sampai akhirnya para pernak-pernik selangkangan seperti punya banyak jelmaan. Saya pernah bertemu beberapa dari jelmaan mereka. Diantaranya adalah : Anu, Ms.V, Meki, Kemem, Gua, Barang, Mekay, Ms. Happy, dan banyak lagi lainya yang malu-malu waktu saya ajak kenalan.

Ada satu jelmaan yang paling terkenal seantero Indonesia raya, namanya : VAGINA!

Entah gimana cerita pada jaman dulunya, yang jelas jelmaan yang satu ini diterima banyak manusia Indonesia sebagai kata yang paling dianggap sopan untuk memanggil menyebut mengistilahkan itu si aktor utama kelamin perempuan. Padahal ya, VAGINA bukan bahasa Indonesia. Dia berasal dari bahasa Latin sana. Nih sumbernya : http://www.merriam-webster.com/dictionary/vagina

padahal ya bahasa Indonesia menyediakan dengan gratis istilah untuk menyebut si pernik selangkangan perempuan. Coba intip Kamus Besar Bahasa Indonesia. dengan cuma-cuma kita bisa menggunakan kata PEPEK untuk menyebut kemaluan perempuan.

Tapi kenapa seantero Indonesia lebih menganggap sopan si vagina, ya?

Untuk dunia kedokteran, biologi, kesehatan dan segala kawan-kawannya. ya gak apa-apa ya.. secara itu urusan dunianya mereka dan kawan-kawannya. Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa masyarakat kita menganggap sopan si vagina ? trus si vagina jadilah digunakan dimanamanamana. Kenapa gak menyebutnya dengan Pepek? padahal itu yang dicatat bahasa Indonesia sebagai istilah untuk kelamin perempuan. Apa karena alasan kesopanan? atau dari nenek moyang emang udah kebiasaan demikian? atau masyarakat Indonesia yang terlalu gak mau tau tentang tetek bengek bahasa Indonesia? atau MUNGKIN lagi faktor sok-sokan? hahahahhaa.

hmm. PR untuk mereka gak tau siapa.

eh? pada heran ya? kenapa yang saya bahas cuma seputaran selangkangan perempuan  hahaha tenang tenang.. selangkangan laki-laki sudah diulas oleh Paman Syam sang idola aneka remaja.
Silakan nikmati Burung Si Dick :)

Purwokerto, lupa tanggal juli 2010


Gimana kalo aku nulis……. MEM*K? hahahahaha pasti pada bilang aku gak sopan, ya? ayo cari tau dulu artinya apa. di kamus juga ada.

Taruhan! gak akan ditemukan bau selangkangan di kata yang satu itu. hihihihihihi  :)

Untuk Kamu yang Ingin Membunuh Keji Anak Sendiri

Kamu.
aku tau buatmu ini mengerikan. Akan lahir seorang anak dari rahimmu yang bapakknya baru saja hilang. Bukan bukan, bukan hilang. Tepatnya lari dari seonggok pertanggungjawaban.  akan menjadi wanita muda yang akan di panggil bunda. Ya, memang kedengaran seperti di film-film kenakalan remaja. tapi rahimmu adalah nyata. Mau tidak mau, kurang dari hitungan 36 minggu kamu akan menjadi ibu.

Pungky | Photo


kamu.
aku tau batinmu gelisah. Tidak sanggup menyaksikan lahirnya si bayi merah. Di antara orang tuamu yang masih terus menghujat kamu yang paling salah. Menjerit sakit seakan tembok kanan kiri sedang menghimpit. Tidak ada lagi ruang untuk bernafas barang sedikit. Menjeritlah sayang.. cerita seperti mu terlanjur berjuta-juta di mana-mana. Tidak akan ada yang peduli karena kamu bukan yang baru terjadi.

kamu.
berhentilah menjerit ketakutan. Anak dalam rahimmu bukan setan !  mengertilah bahwa yang sedang menendang dalam perutmu adalah karunia terindah dari Tuhan. Dia tidak pernah mengerti kenapa ibunya disebut-sebut perempuan sialan dan bapaknya diteriaki bajingan. Yang dia tahu, dia akan lahir sebagai manusia baru karena Tuhan menginginkan begitu. Yang dia tahu, akan ada hidup setelah 36 minggu berumahkan rahim ibu.

kamu.
kenapa sibuk menyalahkan si bajingan ? Aku pertegas ini untuk yang kesekian. “Kucing mana yang tidak lahap ketika ujung mulutnya disodorkan ikan.” Dan kenapa harus terus memaki jaman ? semua yang terjadi ini adalah tentang bagaimana kamu menjaga kehormatan yang letaknya tepat di selangkangan. lalu kenapa mengumpat atas nama kelemahan ? Sadarilah kamu sedang dihadapkan dengan pertanggunjawaban atas apa yang pernah kamu lakukan.

Berdiri..
biarkan lelakimu tidak mau tau lagi, atau anggap saja dia mati.
percayalah Tuhan tidak sejengkalpun pergi..
hapus tuntas keinginan mu untuk aborsi

anakmu bukan fiksi  ! dia bernyawa, dia nyata dan dia akan menjadi manusia seperti aku, kamu dia dan mereka. Akan hidup sebagaimana jalannya. dan dengan senyum mungil akan memanggilmu “bunda…..” .
Lahirkan, besarkan, dan jadilah perempuan dengan berani dengan pertanggungjawaban.

Photobucket
percayalah Tuhan tidak sejengkalpun pergi … (Pungky | Photo)


15 april 2010

Untuk kamu.
lahirkan anakmu, lahirkan anakmu, lahirkan anakmu

*untuk seorang perempuan di sebuah ruang. yang sedang berencana aborsi beberapa hari lagi*

-------------- 

tulisan ini dibuat bulan april 2010, sekarang febuary 2011. si jabang bayi sudah damai di surga sana. aborsinya terjadi.











Foto Ilustrasi:
Talent          : Pungky
Fotografer  : Tripod dan Selftimer
Lokasi        : Kamar Pungky
Edit            : Adobe Photoshop Cs 2

Karena Perempuan Hanya Kelamin Diantara Selangkangan




Aku boleh menangis susungukan ? meraung-raung ketika gelisah tidak terkendalikan. Boleh ? bersikap berlebihan ketika perasaanku terasa tidak karuan. Aku punya alasan untuk bersikap demikian.
aku perempuan.

Aku bersikap bodoh ketika tubuhku dirasuki seribu cemburu. Menjadi mahkluk tanpa otak yang disebut-sebut sok lugu. Menjadi makhluk tolol menjijikan yang sedikit memuakan. Seolah-olah di dalam kepalanya tidak ada sedikitpun kepintaran. Aku harus boleh menjadi demikian.
aku perempuan.

Aku menjadi makhluk manja yang maunya menjadi raja. Tidak mau kalah dan ingin selalu diperhatikan siapa-siapa. Menjadi satu diantara jutaan ciptaannya yang hanya bisa mengeluh saja. Aku boleh untuk seperti demikian.
aku perempuan.

Aku menulis apapun semaunya. Bernyanyi sesukanya. Tidak peduli orang bilang apa. Ah persetan dengan mereka. Hidupku bukan untuk mereka dan kebahagiannya. Hidup ini tentang aku, kebahagiaan dan kebahagiaan. Hahaha. Aku boleh seegois demikian.
aku perempuan.

Aku berbuat seenaknya. Lalu menghapus semuanya atas nama air mata. Haha buaya ! tapi toh Tuhan menciptakan aku dengan Sembilan perasaan. Yang katanya sensitif dan mudah untuk dilemahkan. Aku boleh selemah demikian.
aku perempuan.

Lalu terus saja mengkambing hitamkan kata perempuan. Menjadi alasan untuk lemah dan tak punya lebih dari sekedar keluhan. Lalu terus saja diketeki laki-laki menjadi tertindas dan tidak mau tau lagi. Mentang-mentang satu kata yang disebut “perempuan” lalu aku punya seribu alasan untuk seenak demikian. Ini bukan dunia nenek moyangmu, bajingan !

Lalu terus saja lemah dan disalahkan. Mentang-mentang air matamu memang tidak terkalahkan. Tinggal menangis lalu beres semua urusan. Itu bukan jalan keluar, pecundang ! jadilah manusia karena perempuan hanya kelamin diantara selangkangan.

Lalu kemana ketika aku gelisah. Menangis di sebut lemah. Diam disebut kalah. Berontak di sebut salah.
Lalu kemana ketika aku marah. Disana sini aku hanya gelisah. Tidak tau mana hati mana arah.

Aku perempuan. 
Lalu kenapa ?
Yang istimewa hanya karena aku keturunan hawa. Sisanya sama saja. Mereka saja berlebihan menyebut kaumku mulia.

Aku perempuan.
dengan gelisah di hatinya. Dengan marah di kepalanya. Dengan air mata di tarikan nafasnya. Tuhan menaruh semuanya pada tempatnya. Katanya.

Aku perempuan.
dengan kembali pada hati sendiri aku bersembunyi. Berusaha diam menahan emosi. Bahkan di titik ingin mati. Biar hati ini yang tau sendiri. Tidak akan menjadi terlalu bodoh untuk kedua kali.

Maaf menyalahkanmu, perempuan !
salah sendiri kamu menjadi kelamin diantara selangkangan. Aku bisa seenaknya menjadikanmu alasan. Karena aku memang seegois demikian. Sekali lagi aku perempuan. Seperti itukan ?


Ruang. 15 maret 2010. 03.58


Diam saja diam.
kamu perempuan. Kembali lah ke hati dan berceritalah sendiri.

-------------------------------------------------------------------------------------------------
tulisan ini sekedar curhat colongan.
karena kata sang idola, menulis itu menenangkan ;)

Musnah! Keperawannan Tinggal Istilah







kami jalang, atau kalian yang bajingan..


Ini tentang kegelisahan. Pertanyaan soal kehidupan yang tak pernah terjawabkan. Entahlah, mungkin aku yang terlalu malas mencari seonggok jawab atas seabrek pertanyaan. tentang jaman. Tentang keperawanan. Tentang kehidupan.

Kegelisahan yang lahir dari perempuan tentang perempuan soal kehormatan.


Ini jaman kenapa ?

Kenapa perempuan perempuan masa kini sibuk mempertontonkan tubuhnya dijalan jalan. Di mall mall, di tempat tempat bermain, di trotoar, di foto profil situs situs jejaring social , di atas motor dan mobilnya. Ah dimanapun.

Rok mini, celana ketat jauh diatas lutut, baju terusan cantik yang berhenti di beberapa centi setelah celana dalam, baju tipis aduhai transparan, tali bra warna warni yang nyaris terlihat seperti gantungan handphone, tidak ketinggalan jalan menggak menggok pletak pletok seakan akan lupa kalau pakaiannya saja sudah mengundang perhatian.

Lalu salah siapa kalau akhirnya mereka kehilangan keperawanan ?
Mereka yang jalang, atau memang para hidung belang itu yang bajingan ?


Ini jaman kenapa ?

Kenapa sampai ada situs-situs dunia maya yang menjual belikan keperawanan. memangnya kacang. Seenaknya di lelang, ditawar lalu dibuang jika sudah digunakan. Dan sialnya, ada saja perempuan perempuan yang menjajakan keperawanannya. Menawarkan diri seolah-olah mereka memang benar barang dagangan. Berlomba lomba terlihat paling suci karena tau kesucian mereka mahal dibeli. Memajang foto paling lugu agar terlihat belum pernah ini itu. Tawar menawar selangkangan dengan para pria kehausan yang entah bagaimana wajah dan kelaminnya. sekarang harga diri dan kehomatan bisa diperjual-belikan.

Apa memang harga keperawanan sudah mendarat di lembaran uang ?
Sayang keperawanan tidak bisa digadaikan. Sekali ditukar uang, ya sudah melayang.


Ini jaman kenapa ?

Kenapa perempuan perempuan masa kini rela memberikan keperawanannya untuk pasangannya. Mereka yang bahkan jauh dari jenjang pernikahan. Hanya dengan embel-embel cinta dan janji manis tentang masa depan. Bahkan banyak yang tanpa iming apa-apa. Dengan sedikit rayu maut si pemilik label ‘pacar’. Tidur bersama tanpa busana seakan pelaminan pernah disinggahi berdua. Bercinta sesukanya seolah lupa dengan pesan manis orang tua “jaga diri ya..”.

Lalu kenapa aborsi ketika Tuhan benar benar mengikat dengan janin ?
Kenapa bunuh diri ketika si lelaki pergi dan keperawanan tinggal pemanis kata “pernah”



Ini jaman kenapa ?

Kenapa kumpulan perempuan muda itu asik membanggakan gaya bercinta mereka. Terlihat lupa kapan terakhir mereka membanggakan keperawanannya. Laki ini itu sana sini disana disitu. Bahkan tak ingat lagi berapa jumlahnya. Tertawa ketika bercerita tentan ceceran sperma diatas rapor merah mereka. Prestasi katanya.

Lalu kenapa si hidung belang yang diteriaki bajingan ?
Kucing mana yang tidak lahap ketika ujung mulutnya disodorkan ikan.

Ini jaman kenapa ?

Kenapa perempuan-perempuan berseragam rela mengumbar selangkangan dalam kotak video digital. Posisi sana sini macam robot simulasi. Rok biru sampai abu-abu adu lugu agar rekamannya bisa tersebar ke semua penjuru. Seperti lupa tentang mengejar cita-cita. Seperti tidak peduli orang tua pernah bercerita soal sekolah dan mimpi.

Inikah tuntutan jaman yang sudah dilabelkan “edan” ?
Atau jangan-jangan pendidikan tidak pernah memperdulikan persoalan selangkangan ?

Ini jaman kenapa ?

Kenapa kaum adam itu tidak sedikit saja menghormati kehormatan keturunan hawa. Sedikit menjaga kelaminnya dan membiarkan perempuan tetap perawan sampai waktunya Tuhan menyodorkan pernikahan. Setidaknya menghargai mereka sebagai sesama manusia.


Apa karena mereka benar bajingan ?
Atau salah sendiri kami jalang.



Kamu.
Biarkan janinmu menjadi manusia dan menyaksikan betapa ibunya korban keganasan jaman. Biarkan nadimu tetap berdenyut dan semua orang tau kamu hidup diatas rasa depresi karena kekasihmu pergi dan kamu tidak suci lagi. Biarkan pendidikanmu sampai pada akhirnya dan nilai-nilaimu menjadi saksi bagaimana kamu berjuang untuk angka angka itu dengan tetesan darah, keringat dan ovum mu. Biarkan mereka memperkosamu dan kamu menjadi bagian dari deretan selebriti berita kriminal.

Agar satu dunia melihat, kamu menjadi bukti keperawanan yang tinggal cerita.




Ruang. 12 february 2010

.Pungky Prayitno.


----
tulisan lama. posting ulang dari kompasiana