Menjadi perempuan pekerja seks, seringkali dianggap pekerjaan yang mudah dan cepat menghasilkan uang secara instan oleh banyak orang. Seorang perempuan pekerja seks, akan mendapatkan banyak uang hanya dengan bermodalkan tubuh mereka. Banyak orang yang tidak tau, betapa menjadi perempuan pekerja seks adalah tidak mudah. Tidak asal bertubuh seksi dan mau ditiduri.
Malam itu, aku berkunjung ke kost salah satu wanita pekerja seks tidak langsung di Baturraden. Dia seorang pemandu lagu di sebuah tempat karaoke terkenal di Purwokerto. Tentu saja, bukan sekedar pemandu lagu. Pemandu lagu kawasan portisusi jelas memiliki pekerjaan ‘tambahan'.
Dia bercerita panjang lebar kepadaku tentang pekerjaan dan penghasilannya. Dalam dua minggu, tempat karaoke dimana dia bekerja membayarnya sampai di angka dua juta tujuh ratus ribu rupiah. Aku sempat ternganga. Berarti dalam sebulan, perempuan ini dapat menghasilkan uang sebanyak lima juta rupiah lebih hanya dengan menemani tamunya karaokean. Lalu aku bertanya, dihabiskan untuk apa saja uang sebanyak itu hanya untuk hidup satu orang?
Dan dimulailah sebuah petualangan finansial seorang perempuan pekerja seks yang belum pernah aku dengar. Gajinya memang banyak. Lima juta rupiah lebih untuk satu bulan. Namun hidupnya menuntut uang yang lebih banyak. Beberapa rupiah dari uangnya akan ia kirim untuk keluarganya di kampung setiap bulan. Sisanya untuk keperluan hidupnya seperti makan dan lain-lain. Aku masih berpikir. Tentu saja sisanya masih sangat banyak. Biaya hidup di purwokerto tidak akan sampai berjuta-juta untuk satu bulan dan hanya satu orang.
Tenyata tidak berhenti sampai di situ.
Dia bercerita, setiap bulannya, dia dituntut untuk membeli gaun dan sepatu baru demi pekerjaannya. Belum lagi make-up, perawatan tubuh dan tetek bengeknya. Persaingan menjadi primadona di tempat karaoke menuntut dia harus selalu tampil menarik dan tidak membosankan. Baiklah. Keperluan yang menurut aku tidak penting ini tidak murah. Namun apa mau dikata, pekerjaan menuntutnya demikian. Tampil menarik dan tidak membosankan adalah senjata para pemandu lagu agar tetap dilirik tamu. Mesin penghasil uangnya.
Dia berhenti cerita. Mengambil ponselnya dan sibuk berkirim pesan dengan entah siapa. Sampai tiba-tiba dia mengarah padaku dan berbicara “Pulangnya nanti aja ya.. Aku gak kerja malem ini. Udah ijin”. Kontan aku bertanya “Emangnya gak apa-apa?”. Dan dia menjawab, bahwa ditempatnya bekerja, bolos kerja semalam adalah empat ratus ribu rupiah. Setiap pemandu lagu yang tidak masuk kerja, harus mengganti rugi kepada tempat karaoke sebesar empat ratus ribu rupiah per malam. Bukan angka yang kecil untuk sekedar tidak masuk kerja satu kali.
“Nanti dipotong gaji. Tiap gak masuk empat ratus ribu” tambahnya.
Kepalaku menghitung lagi. Baiklah, gaji lima juta sebulan akan terpotong empat ratus ribu setiap tidak masuk kerja.
Kami melanjutkan obrolan. Aku penasaran, bagaimana kalau ada pemandu lagu yang sakit? Apakah hal yang di luar kuasa manusia tetap harus diuangkan sebegitu besar? Kemudian dia menjelaskan, bahwa dengan surat dokter, maka akan diberikan ijin tidak bekerja selama tiga hari. Dengan kata lain, surat dokter hanya berlaku tiga hari. Apapun sakitnya. Selebihnya empat ratus ribu rupiah lagi per malam.
Sambil kami bercerita, seorang temanku menanyakan tentang biaya kamar kost yang ia tempati. Harga sewanya empat ratus ribu rupiah per bulan. Dan ternyata itu tidak ia bayar dengan uangnya, melainkan ditanggung oleh seorang laki-laki yang menjadikannya simpanan. “Kalau harus bayar kamar kost juga, ya gaji aku mana cukup..”, dia menambahkan.
Lalu aku berpikir, berarti lima juta untuk satu bulan adalah banyak. Namun kebutuhan hidup seperti makan dan lain lain, keperluan kecantikan demi tampil menarik, kirim uang ke kampung, biaya ganti rugi kalau tidak masuk. Jika semuanya sudah dijadikan rincian pengeluaran, berarti lima juta untuk satu orang selama satu bulan adalah... pas.
Aku kemudian berpikir lebih jauh. Bagaimana nasib para perempuan pekerja seks lain yang hidupnya tidak seberuntung perempuan ini? Mereka yang penghasilannya sebulan tidak seberapa, yang hanya mampu mangkal di pinggir jalan karena tidak ada modal ini itu untuk menjajakan diri di tempat-tempat portitusi bergengsi, yang tetap harus tampil cantik dan menarik, yang harus menyisihkan uangnya untuk keluarga di kampung. Mereka yang juga butuh uang untuk makan, untuk tinggal, untuk hidup.
Banyak orang yang mengira, bahwa menjadi seorang perempuan pekerja seks adalah pekerjaan yang sangat berlimpah uang. Hanya menjual tubuh seksi lalu dibayar tinggi. Bisa menjadi kaya hanya dengan sekali dua kali menduri pria. Namun kenyataannya tidak demikian.
Purwokerto, 28 Januari 2014
Hidup tetap berlaku adil dan rata pada siapa-siapa. termasuk pada perempuan-perempuan yang menjajakan tubuhnya.