Pungky Prayitno @ 2013. Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label galaksi fiksi pungky. Tampilkan semua postingan

#PostcardFiction Edisi Valentine



Tulisan ini diikutsertakan dalan event #PostcardFiction Edisi Valentine Kampung Fiksi.


Bissmillah :)

Lepas

untuk kamu, yang satu jam lalu masih disini.

kamu pasti masih hafal kalau aku benci basa-basi. aku hanya ingin kamu membaca ini. dan aku berharap, setelahnya semua kembali baik-baik saja. seperti enam puluh menit yang lalu.

Sayang... ketika dihadapkan dengan lepas, kamu juga harus belajar tentang ikhlas. Supaya kamu tidak lagi sakit. Tidak perlu menangis sembab hingga larut. Tidak usah memberhentikan apa-apa. Tetaplah menjadi kamu walau katamu tanpa sebagian kamu.

Aku percaya Tuhan itu adil. Dia menciptakan segala dengan pasangannya. Seperti laki-laki dengan perempuan, seperti siang dengan malam, seperti pertemuan dengan perpisahan. Tersenyumlah sayang, biarkan pertemuan kita menjemput jodohnya. Ikhlaskan pertemuan kita menjadi sempurna.

Bersamamu itu indah, aku berani bersumpah. Namun takdir tetaplah takdir. Kamu ingat kan kita sudah berusaha? Kita sudah sayang. Kalaupun tidak lagi bisa, aku mohon berhentilah memaksa. ada hal-hal yang tidak bisa kita paksakan pada putaran hidup. Ikhlas sayang, hidup tidak pernah sejahat yang kamu hujat.
Sayang, berhentilah menangisi kita. Kembali lah menjadi kamu yang membuatku jatuh cinta dulu. Cinta bukan alasan memeras air mata. Cinta adalah alasan kita bahagia, dengan tidak lagi sama-sama.
Aku mencintaimu seperti pertama. Tapi, cinta, punya jalannya sendiri tanpa bisa dipaksa.

Alpha.

Kita

Adalah jarak terdekat yang dipisahkan semesta.

Bibirnya Bergincu, Kelaminnya Beradu (2)


Sekarang dia bergincu. siap untuk beradu. Birahinya meninggi. Kelaminnya menganga minta lagi. Si lelaki siap menyetubuhinya walau hanya lewat kotak maya 10 inci. Dia mempreteli pakaiannya sendiri.

“jangan!”

“kenapa?”

“karena kamu tidak punya alasan”

“untuk bahagia”

“kamu tidak bahagia!”

“dia!!”

“tidak! Tidak dengan cara ini!”

“dengan apalagi? Jangan lupa dia laki-laki”

“jangaaaaan!! Kamu bukan perempuan murahan!”

“aku tau dia siapa dan bagaimana. Dia bukan bajingan. Dan tidak pernah ada kata murahan”

“jangan tolol!”

“jangan berisik!”


Sepi pergi karena menyerah, komprominya kalah. Dia bertelanjang diri. Laki-lakinya menikmati. Dengan tanpa busana dia melayani laki-lakinya dalam kotak maya. Nafsu si lekaki menjadi. Terbang bersama birahi yang terus meninggi.

Ini atas nama cinta. Ini atas nama cinta. Ini atas nama cinta
Mantra itu berulang pasti dalam hati. Tinggal itu yang dia punya. Dia percaya kebahagiaan lelakinya adalah obat terbaik untuk perihnya. Untuk luka parah yang terus mendesak jiwanya menyerah. Bukti bahwa cintanya tidak pernah kemana-mana. Mimpinya pergi, hatinya mati, tapi cintanya tetap disini. Untuk si laki-laki terakhir yang sekarang sedang…..

…………………………………… aaaaah! orgasme luar biasa.

“I love you..”
Sekarang dia menyingkirkan kamera yang sejak tadi menyetubuhinya. Air mata nya ikut ambil bagian dalam skenario malam ini. Entah. Ini bahagia atau apa. Dia cuma tau malamnya digerayangi cinta.

Kembali ke kotak 10 inci. Laki-lakinya masih menghujani dengan sejuta kata mesra. Tak ambil peduli. Dia sedang tidak butuh dipuji. Dia Cuma sedang menikmatinya cintanya, bahagianya, birahinya, air matanya.

---

Pagi. Kotak maya kembali menghubungkan dia dengan si lelaki. Komunikasi setiap dia mau adalah obat untuk serbu rindu.

“sayang, banyak orang disini”

“oh, ya udah. Nanti lagi ya”

“maksudnya, kamu jangan kayak tadi malam. hahahaha”

“percaya diri banget kamu ngomong kayak gitu”

“siapa tau, tau-tau webcamera nya aktif lagi. Bisa gawat”

“haha. emangnya kamu pikir aku ini apa!”




Layarnya mati.
Hati nya lebih lagi.






Depok. 14 september 2010
 ------
teman-teman blogger yang baik, kemaren ada yang nanya sama aku tentang kelanjutan cerita Badut Selangkangan yang pernah aku tulis dulu dan masih besambung sampe sekarang. mmm, bukannya gak mau ngelanjutin. tapi cerpen yang satu itu lagi dilema. antara di publish terusannya di blog, atau biarin dia berjalan dengan jodohnya ditempat lain. eemm, doain aja deh ya. semoga kalian yang penasaran bisa cepet baca lanjutannya. entah dalam bentuk postingan blog, atau dalam bentuk lain. semoga :)

Bibirnya Bergincu, Kelaminnya Beradu


satu lelaki dia tiduri karena mimpi yang pergi bersama luapan emosi usia pagi
satu lelaki lagi dia telanjangi karena desakan nyeri
lelaki terakhir dia setubuhi karena dorongan 'ingin' lagi

sekarang dia bergincu
pakai baju baru dan siap untuk kembali bergelut dengan laju
laju akan kehidupan yang tak pernah sanggup dia lawan
laju tentang perjalanan yang terus dia tantang
gerak akan hati yang sialnya belum mau mati tapi tidak berfungsi sama sekali

nanti malam dia beradu
kepada pembaringan tempat air mata nya selalu disemayamkan
pembaringan tempat dia berkencan dengan tuhan
melawan angan tentang kehangatan yang selalu menentang lantang
membunuh serbu rindu yang menggerayangi setiap detil deru nafsu
bisa apa? jeritnya diboikot bisu

hatinya berdarah parah
emosinya membuncah tak mau kalah
marah!
marah karena hidup tidak pernah bisa menjadi salah
bantalnya basah
dia melemah

menata kembali pola semrawut kusut untuk ke seribu kali
gagal lagi
isi kepalanya terlanjur tidak bisa diajak kompromi
maklum. dorongan hati yang dia bilang mati

sekarang dia bergincu
siap berlaju bersama hidup yang sombong tak mau tunggu
rindu nya tutup buku
angannya pun begitu


beradu
kelaminnya perih
hatinya lebih

 

Depok. 13 september 2010

Jalang Petang

Petang.

Ayah selalu pulang. Bau parfum si jalang juga selalu ikut pulang.

Tak lama pasti terdengar ibu susungukan. Pertengkaran. Skenario yang sama terulang, isak tangis menggerayangi setiap pojok ruang yang ini. Jeritnya memekakkan ruang mimpi. Kesetiaan berbalas bau parfum jalang, setiap petang.

Dan setelahnya namaku dibawa-bawa. Bagaimana anak kita, katanya. Kebahagiaan keturunan pertama selalu jadi dilema. Masa depan putri satu-satunya setengah mati jadi alasan bertahan bersama. Sedang yang punya nama batinnya menggila. Lupakan tentang kebahagiaan dan masa depan. Itu jauh! jauh! Yang punya nama hanya sedang ingin terjaga. Bermimpi tanpa kengerian setengah mati. Dikamar sebelah, rumah rahimku meronta. Di ruang yang sana, ibuku menjerit sakit luar biasa. Apa daya ini Tuhan ciptakan raga. Jangankan membela, bicarapun aku masih mengeja. Sang umur masih belum beranjak dari angka tiga.

Dan pagi,

ibu pergi.

Semalam yang terakhir sakitnya di puncak tertinggi. Ibu pergi. Itu obat terhebat untuk luka yang terus menghujat.
Aku masih terjaga mimpi di ruang yang sini.

Petang.

Matahari belum seratus delapan puluh derajat tenggelam. Sudah aku didalam ruang dengan balutan tembus pandang. Bersama sebotol bir dingin dan rokok lima batang, siap untuk sentuhan tubuh yang itu. Lelakiku. Skenario yang ini sudah ku atur sedemikian rupa. Usia ku yang menapak kepala dua adalah saatnya meluapkan segala atas rasa. Dendam. Cuil kebahagiaan. Puing kepuasaan. Sakit tertinggi atas dia yang pergi.
Kecup manis di pipi kiri menjadi pembuka pintu mati sang hati. Senyum birahi mengawali gerak sang jantan atas setubuh perawan yang sudah lagi tanpa balutan. Mendekat. Melumat. Dan lalu menjalani panjang skenario malam laknat.

Darah pelepasan kehormatan jadi saksi bagaimana malam ini sang hati telah menjadi. Entah mati, atau malah lebih hidup lagi. Tetes saksi bagaimana seonggok mimpi pernah ikut pergi. Cecer merah atas amarah yang membuncah pada dia yang disebut ayah. Cairan kepuasaan manusiawi bersama ruang dalam yang nyeri. Menetes! Mengalir dalam segala rasa yang tak berupa. Dan lalu beriringan dengan perih yang seketika berirama rapih.

Perih parah!
Amarah!
Berdarah!

Aku pasrah,

mendesah.

Hari ini. Nikmat ayah semalaman juga aku rasakan. Batin yang pernah gila kini terpuaskan puncak orgasme jiwa raga. Sumpah serapah untuk ayah, tersalurkan lewat engah desah. Luka yang dibawa pergi kini aku seret kembali bersama pelepasan kesucian diri. Perih ini biar aku yang bawa. Sakit ini biar aku yang rasa. Semoga tertinggal sepaket bahagia untuk ibu disana.

Dan lalu Ayah murka. Putri satu-satunya tak lagi punya nama. Tinggal onggok nyawa tanpa asa. Kesuciannya jadi cerita, pernah ada. Lalu Ayah malu. Katanya keturunannya tak tau malu.

Ah.
Kenapa baru sekarang berpepatah soal malu? Dulu hati ini lebam membiru. Sedang Ayah tak pernah mau tau.
Sakit ibu, kini aku tau. Dan marah atas ayah, sudah.

Petang.

Aku selalu pulang. Bau parfum jalang juga ikut pulang.


taken with Nikon D60/18-70mm



Purwokerto, agustus 2010

prosa lama bersemi kembali :)






---
eh. udah tanggal 5 juli nih. berarti 5 hari lagi giveaway Galaksi Pungky ditutup. jangan lupa ikutan yaa. peserta yang tulisannya udah masuk, nanti yaa aku list di postingan selanjutnya. besok hari terakhir UAS. mau berjuang dulu. hehey muah! :)

Tentang



Dan lalu kita berpandangan. Puncak orgasme menyatukan kita dalam pelukan hangat di kotak 2 x 3. Tanpa kata. Aku cuma sanggup berair mata. Iya. Aku sangat bisa memastikan kalau kurang dari enam puluh detik sejak aku menangis, kamu pasti bertanya kenapa. Dan aku menjawab geleng kepala sampai enam puluh detik berikutnya.

Aku harus memulai dari mana? Enam puluh detik ku dimulai. Berfikir. Harus dapat definisi yang tepat tentang kenapa aku memulai acara istirahat malam ini dengan air mata. Malam ini akan ada apa-apa. Air mataku terlanjur memulai apa-apa. Tidak mungkin jika akhirnya yang terjelaskan adalah tentang yang sebenarnya. Tentang aku yang terserang cemburu atas kamu dan masa lalu. Atau tentang takut tak lagi menjadi satu-satunya di hatimu. Persaingan dengan mereka membuatku kelimpungan entah bagaimana. Tidak. Itu memalukan.

Dijelaskan pun tidak akan pernah mengubah apapun. Hanya akan membuat acara istirahat kita semakin tidak dimulai. Toh cemburu ini tidak pernah mempengaruhi apapun. Cuma ketakutan berlebihan atas perasaan yang belum siap disakiti dan kehilangan. Menyoal cemburu tentang riwayat selangkanganmu pun tidak akan membuat segalanya lebih baik. Perempuan-perempuan yang pernah meniduri dan ditiduri kamu adalah urusan mu. Bahkan semuanya sudah tutup buku. Kenapa lagi aku harus membuka satu-satu demi perasaan yang bahkan aku belum yakin kalau ini bisa disamadengankan sebagai cemburu.

Enam puluh detik ku habis.

“aku cemburu”

“atas?”

“semua nama di masa lalu kamu”

Aku diam. Menghunus diri sendiri dengan pedang kebodohan. Ini akan semakin rumit. Rumit. Harusnya bukan itu yang keluar menjadi definisi. Kenapa harus kejujuran yang sok-sokan hadir sebagai pahlawan.

“bisa apa? Itu kan masa lalu”

“aku cuma cemburu. Aku terlalu pengecut untuk nerima masa lalu seorang kamu. Soal selangkangan itu urusan hati, sayang. Ada perasaan-perasaan gagal mengerti ketika aku sadar kalau bukan aku yang pertama”

“kenapa kamu sibuk dengan masa lalu sedangkan kita masih akan punya masa depan? Kamu terlalu berhasil menyakiti diri kamu sendiri”

Aku mengangguk pasrah. Bisa apa lagi? Aku memang sedang membekap perasaan ku sendiri dengan kepala yang susah mengerti. Iya susah, dan aku gagal untuk selalu mencoba dua kali. Menyesal tentang masa lalu kamu adalah hal paling bodoh yang pernah terjadi dalam kepalaku. Memikirkan sampai seribu kali pun, kamu dan masa lalu akan tetap begitu. Menuntut menjadi yang pertama untuk kelaminmu adalah kemustahilan luar biasa. Seperti menuntut hukum dari orang mati. Semuanya menjadi jelas. Tapi tidak pernah mengubah apa-apa. Dan tidak pernah bisa mengubah apa-apa.

“aku sering menuntut pada Tuhan. Kenapa bukan aku yang pertama untuk kelaminmu, dan kamu yang pertama untuk kelaminku”

“kenapa harus menuntut?”

“karena sadar kalau aku bukan tubuh pertama yang kamu telanjangi itu nyeri! Bahkan kamu pernah memeluk mesra tanpa busana perempuan selain aku! Sayang, selangkangan itu soal hati. Soal helai tipis di atas perasaan. Bentuknya entah apa, tapi ketika terbelah dua atau tiga menghasilkan efek luar biasa”

“ikhlas sayang… ikhlas.. tuhan selalu menjadikan apa yang memang seharusnya terjadi”

Air mataku menyerobot situasi. Lagi-lagi Gagal mengerti. Padahal semuanya adalah tentang aku, kepala dan hati. Bukan tentang kamu, masa lalu dan penuntutan atas entah apa. Aku Cuma belum mengerti. Dan itu satu-satunya alasan untuk detik ini aku mengerti.

Tubuh kita terpaut hitungan mikrometer. Cium di kening mengantar aku ke galaksi mimpi.


Purwokerto. 2010

prosa selangkangan yang ditulis lebaran Idul Adha taun lalu. maaf repost ;)

Badut Selangkangan #2

“kamar berapa tante?”

“anggrek dua, Sa..”

Dia tersenyum kecil. Senyum yang dibarengi genangan air mata hampir tumpah di sudut matanya. Senyum bersamaan dengan tangan kanan yang mengepal. Dan tangan kiri gemetar menenteng kotak makan untuk ayahnya. Namanya Sabrina. Perempuan muda, sangat muda. Tapi mudanya digrogoti kemarahan di wajahnya. Setiap senyumnya berbau getir. Setiap tatapnya beraroma kecewa. Dan setiap sapanya, mengandung pesan lirih “tololng saya!”.

Aku tau pasti bagaimana hari ini adalah hari yang menoreh luka sayat di hatinya. Kotak makan siang kali ini tidak dia antar ke kantor ayahnya seperti biasa. Tapi ke rumah sakit, kamar anggrek dua. Tempat ayahnya menghadiahinya seorang manusia baru dengan sebutan adik. Iya, adik baru. Anak dari ibunya yang bukan darah kandungnya. Istri kedua ayahnya. Istri? Iya, ayahnya dan perempuan sales promotion girl itu menikah diam-diam beberapa bulan lalu. Dua bulan setelah si selingkuhan itu dinyatakan hamil.

Dia berjalan payah menuju kamar anggrek dua. Aku ingat bagaimana dia selalu menyebut ruang kerja ayahnya adalah neraka. Semoga kamar rumah sakit yang akan dia injak kali ini tidak serupa dengan nerakanya. Langkahnya lemah. Diseret pelan dengan tubuh gemetar. Kepalan tangan kanannya semakin mantap. Dan nafas panjang di depan pintu anggrek dua menyiapkan dirinya menuju mirip neraka ke dua.


Aku duduk bersandar pada kursi tunggu di depan meja administrasi rumah sakit. Menunggu petugas rumah sakit menyelesaikan data kelahiran anak bosku. Masih jelas di mataku bagaimana gadis muda dengan ayah kaya berjalan malas menemui orang tuanya. Mengantar makan siang buatan ibunya untuk sang ayah yang sedang menemani persalinan ibu tirinya. Makan siang yang tidak murah. Keluarganya mana kenal pasar. Makan siang mereka diolah dari bahan-bahan berkualitas produk swalayan besar. Tapi siapa sangka, makan siang dengan harga mahal harus beriringan bersama kisah yang menyedihkan. Cinta ibu yang terolah dalam makanan tinggal sisa pemanis atas perjalanan sakit hati seorang gadis.

Mengingatnya aku jadi ingat dengan Abah dan Mamah di kampung. Tanpa perlu jadi kaya. Mereka sanggup membuatku cukup makan nasi sampai aku sebesar ini. Tempe goreng dan tahu bejek setiap hari, ternyata masih sanggup membuat anak semata wayangnya menjadi orang sukses di kota. Jadi pekerja dengan gaji diatas rata-rata lulusan D3 desa. Tanpa banyak harta, Abah dan Mamah membuat tidurku sangat nyenyak setiap malam. Membuatku selalu bahagia dengan kabar-kabar baik dari desa. Kabar-kabar tentang keluargaku yang selalu sederhana, namun utuh. Abah pernah bilang, miskin itu rejeki. Karena dengan kaya, siapa-siapa bisa membeli apa-apa. Termasuk kebahagiaan orang, termasuk istri, termasuk sakit hati. Tapi cinta, tetap bertahan dengan mata uangnya sendiri. Tidak terbeli. Suci.

Ah menyesal rasanya aku pernah menangis dan menuntut Abah untuk kaya. Mengeluh atas miskin tak juga berkesudahan. Merasa sangat dewa bisa kerja di kota. Bermimpi jadi kaya raya. Padahal kini setelah dapat semua, bahagia dulu saat miskin tidak berubah menjadi surga. Tetap saja namanya bahagia. Tetap saja rasanya sama.

Beberapa meter dari tempat aku duduk, terlihat Sabrina keluar dari ruang anggrek dua. Wajahnya datar. Di matanya masih menggenang air yang siap luber di pelabuhannya. Mungkin hatinya sudah luber, mungkin malah banjir.

“adikmu perempuan ya Sa?”

“Anak badut. Mana punya jenis kelamin!” 


Sabrina… Tuhan pasti menyimpan cerita lain untuk kamu dibalik ini semua. Jangan menyesal atas susah sepeti aku dulu aku menangisi miskin. Jangan menuntut indah pada Tuhan seperti aku dulu menjerit minta harta. Tuhan tidak menyakitimu, gadis muda. Hanya sedang membuatmu tau, betapa indah setelah terlebih dulu menikmati susah itu rasanya nikmat! Sangat nikmat!
Percayalah, aku pernah. 

-----------



 bersambung.

 Purwokerto, 8 mei 2011


Badut Selangkangan

Semuanya blur. Pandanganku tinggal bayangan-bayangan kehitaman yang sesekali memutih. Engah nafas mengguncangkan tubuhku. Sempoyongan aku terus berusaha berdiri. Tidak. Tidak ditempat seperti ini aku kalah. Bertahan. Sampai engah nafas dalam mengakhiri pertahananku. Aku ambruk. Beserta sekotak makan siang yang kini tak lagi berbentuk.

————–

Kalau bukan karena ibu, tidak akan aku mengiyakan permintaan ayah. Ibu adalah alasan. Iya. Ibu adalah kenapa aku selalu diam dan terbungkam. Perasaan ibu menjadi alasan. Dan masa depan adik kecil menjadi taruhan. Senyum ibu yang membuat aku keluar rumah setiap jam makan siang. Sekotak makan siang penuh cinta yang membuat aku harus menjadi kesetanan dalam perjalanan dari rumah ke… kantor ayah!

Mengantar makan siang untuk ayah bukanlah hal yang aku suka. Aku benci. Aku benci ketika ibu memintaku mengantar sekotak makan untuk ayah ke kantornya. Aku benci ketika mobilku melaju menyusuri jalan besar menuju kantor ayah. Aku benci berhadapan dengan gedung 17 lantai tempat ayah siap tersenyum menyambutku datang. Dan tapi, hal yang paling aku benci adalah ketika sampai depan ruangan ayah. Mengetuk pintu ruangan ayah adalah neraka!

“siang tante Dian..”

“siang Sabrina.. nganter makan siang buat ayah ya?”

Tante Dian tersenyum miris. Aku tau apa yang tak terucapkan dari gerakan terakhir di bibirnya. Selalu seperti ini. Membalas dengan senyum lalu menuju ruangan ayah tempat nerakaku dimulai. Tempat aku dan hatiku tak lagi pernah dipikirkan siapa-siapa. Tante Dian, Mungkin sekertaris kesayangan ayah ini satu-satunya orang yang mengerti bagaimana aku mendidih ingin membakar ruangan ayah beserta seluruh isi di dalamnya. Dan tuhan. si maha itu pasti sangat tau kalau mimpi terbesarku dalam hidup adalah menghabisi ayah dengan tanganku sendiri.

Tidak! Ayah belum harus mati. Ibu menunggu kotak makan siang ini kosong di rumah.

Tok. Tok..

“ayah…”

Suara ku berteriak dengan tenaga tak seberapa. Habis. Energiku habis untuk mengatur buruan nafas ketika bersiap diri mengetuk pintu ruangan ayah. Bukan. Bukan mengatur nafas. Mengatur nafsu untuk membunuh mungkin terdengar lebih tepat.

“Sasa.. sini masuk”

Ayah membuka pintu. Tersenyum manis. Di belakangnya menyambut seorang perempuan terduduk membetulkan kancing seragam merahnya dengan senyum yang tak kalah manis.

“hay honey.. sini masuk..”

Aku menggeleng. Nafasku memburu haus nyawa si empunya sperma. Ingin menampar ayah dan mendorongnya keluar jendela. Ingin menjambak si perempuan berambut gelombang lalu memisahkan kepala dengan tubuhnya. Dan lalu menghidupi ibu serta adik kecil di desa yang biaya hidupnya tak butuh kerja mewah begini segala.

“Sasa.. masuk!”

Ayah setengah membentak. Aku maju beberapa langkah. Berhenti tepat di sebelah sofa tempat si perempuan badut terduduk. Ayah menutup pintu. Selalu begitu. Pelacur dengan seragam sales promotion girl perusahaan asuransi ini selalu aman diketiak ayah.

“Sasa udah gak tahan!”

“ngomong apa kamu?"

“anak gadis mana yang tahan kalau setiap siang harus liat ayahnya selingkuh sama SPG di kantornya begini! Sedangkan makan siang dari ibu gak pernah absen datang untuk ayah!”

Si badut dengan seragam merah tersenyum ke arahku. Iblis! Jangan pikir dengan senyumnya dia bisa membuatku menerimanya untuk bermesraan dengan ayah setiap hari. Ah, ibu! Kalau saja cintanya yang berlebihan tidak pernah kupikirkan. Dan kalau saja soal ayah tidak akan membuat ibu terluka. Sudah kuhabiskan pelacur ini beserta selingkuhannya sekalian! Bangsat!

“Sasa honey.. kok kamu gitu sih.. kamu gak sayang ya sama tante..”

Lagi. Si pelacur membela diri.

“Sasa capek. Sasa sakit, yah! Sasa mau ayah tinggalin tante Nina. Selamanya”

Muka ayah memerah. Marahnya sudah akan menyerangku hingga besok siang lagi. Pasti, setelah ini tak ada jatah uang kuliah sampai semester depan.

“Sasa!!”

Ayah membentak. Si pelacur beranjak mendekat.

“honeeeeey… kamu tega sama tante? Tega kamu sayang? Kalau ayah kamu ninggalin tante, nanti adik baru kamu makan apa, Sasa..”

Adik baru ? a adik? Badut selangkangan ini hamil? Ha hamil? Anak ayah?

Aku menatap ayah membelalak. Ayah mengangguk.

Brakkk!

Pergi!
Pergi Sasa.
pergi.

——

“Sabrina.. kamu gapapa? Tadi mama kamu nelpon tante. Katanya kotak makan siang ayah jangan lupa dibawa pulang lagi..”







blur.





bersambung.


purwokerto. 25 november 2010


Karena Adam adalah Jawa dan Hawa adalah Cina

12979505951339547159
shutterstock.com



“ini bukan tentang perasaan, Jiwo. ini tentang keluargaku yang gak bisa nerima kamu.. nekad sekali kita bila mengajukan proposal pelaminan pada mereka”

“karena aku tidak putih dan mataku tidak sipit?”

“aku menghargai apa yang diturunkan nenek moyangku, Jiwo. tolong mengerti.. “

“memang siapa nenek moyangmu? Adam? Hawa?”

“ya, aku rasa mereka..”

“hahahaha lucu ya”

“lucu?”

“memang sejak kapan Hawa berselingkuh dengan Jet Li”

“Jet Li?”

“iya. mmm, atau mungkin Adam meniduri Ken Dedes ya”

“Ken Dedes? kamu melantur, Wo!”

“aku cuma berfikir”

“tentang?”

“manusia. aku, kamu, adam dan hawa”

“hubungannya apa?”

“bukannya semua kitab pun menyatakan sama. semua manusia keturunan Adam dan Hawa. Lalu siapa yang menyipitkan kamu dan menjadikan aku Jawa?”

“Tuhan”

“iya… aku tau. tapi Adam dan Hawa itu cuma dua manusia. seandainyapun mereka berbeda ras. berarti seharusnya hanya ada dua ras di bumi ini”

“Jiwo sayang, nenek moyang itu berproses dan beranak pinak seperti kita. kamu tau multi level marketing? ya seperti itulah mereka. lahir lalu lahir lagi lalu lahir lagi dan cabang lahir semakin banyak. mereka tersebar di seluruh bumi. lalu anak dari anak dari anak mereka tersebar dimana-mana dan beradaptasi dengan geografisnya masing-masing. Eropa itu dingin, sayang.. dan Afrika itu panas”

“kamu pernah nonton Blood Diamond? Afrika itu panas, Linlin sayang. tapi Leonardo Dicaprio yang hidup bertahun-tahun disana tetap putih dan tidak menjadi negro. iya cuma film. tapi sutradara tidak sebodoh itu tentang manusia. dan hey, bahkan di dunia nyata, Djimon Hounsou adalah Afrika yang menjadi model di London. apa dia menjadi putih? tidak sayang.. dia tetap hitam dan negro”

“Djimon Hounsou keturunan negro, dan dia lahir di Afrika..”

“cintaku… abad ke tujuh belas terjadi pengiriman besar-besaran budak Afrika ke Amerika dan Eropa. mereka menikah dengan dengan sesama negro. dan anak-anak mereka yang lahir di Eropa pun tetap hitam. masih kamu mau bilang kalau kita ini soal anak Adam dan adaptasi geografis?”

“jadi? Adam itu ras apa? dan kita keturunan siapa?”

“mana aku tau. kalau aku tau, aku tidak akan nekad ingin melamar kamu”

“kenapa?”

“karena kalau aku tau nenek moyangku dari suku apa dan ras apa. aku akan menghormati mereka dengan menikahi keturunan yang mereka inginkan. seperti kamu sekarang”

“berarti kamu sudah mengerti kenapa aku menghormati nenek moyangku? kamu sudah mengerti kan kenapa aku tidak bisa menerima lamaran kamu?”

“belum”

“belum?”

“kalau kamu sudah yakin bahwa Adam bermata sipit seperti kamu dan keluargamu. atau kamu yakin Adamku adalah Jawa seperti aku, maka aku akan mengerti”

“memang Adam dan Hawa ada berapa?”

“tanya saja pada keluarga-keluarga kita yang sibuk menolak calon pengantin anaknya hanya karena keturunan, ras, suku dan tetek bengek perbedaan itu”



——tamat——

Purwokerto, 17 february 2011

untuk mereka yang cintanya terhalang tembok perbedaan.