Menjadi mahasiswa semester banyak kayak aku, kalimat ngehe yang paling sering mendarat di telinga adalah: "kapan wisuda?". Pengen rasanya sepuluh detik meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan-tersering-semester-ini tadi dengan senyum manis dan sejungking jari tengah untuk si penanya. Tapi ah, peduli setan. Sayang amat ngebuang sepuluh detik buat jawab pertanyaan-tersering-tapi-juga-ter-gak-penting. Jadi ya dengerin aja sambil pasang muka "makasih ya perhatiannya".
Rejeki dari Kampung Fiksi
Jumat, 26 April 2013
Iya, aku menang lomba Post Card Fiction Edisi Valetine yang diadain Kampung Fiksi. Lomba nulis fiksi singkat di atas kartu pos. Trus kartu posnya dikirimin ke panitia. Aku nulis tiga biji fiksi (biji?) yang semuanya aneh alaihim gambreng. Tapi ya emang rejeki kali ya.. Salah satu flash fiction aku yang judulnya Namaku Susan ternyata dipilih tante-tante juri buat menang. hehe hehe
Hadiahnya Smartfren Andromax U sama kaos Kampung Fiksi. Hape canggih dual sim card dengan kecepatan was wes wos. Sejujurnya aku gak terlalu paham sama ini smartphone, tapi si pacar yang melek tekhnologi itu girang banget waktu tau aku dapet Andromax U ini. Katanya cepet, dual sim card juga, trus sandwich-sandwich apa gitu lah gak tau. Pokoknya kata pacarku ini smartphone bagus. Kalo kata aku, ini smartphone gratisan, jadi mau gimana juga ya aku bilang bagus. hahahaha
Makasih ya Kampung Fiksi.. Makasih Smartfren. Makasih tante Admin Kampung Fiksi yang sabarnya mentok.. Makasih buat Susi, temen baik yang ngasih aku kartu pos di saat-saat terakhir..
Purwokerto, tanggal jadian 2013
Dan berkat event ini, aku jadi tau, ternyata gak semua kantor pos jual kartu pos. hahahahahaha Aneh tapi nyata, bok..
#PostcardFiction Edisi Valentine
Senin, 11 Maret 2013
Tulisan ini diikutsertakan dalan event #PostcardFiction Edisi Valentine Kampung Fiksi.
Bissmillah :)
Soal Hati Mahasiswa Komunikasi
Jumat, 14 Desember 2012
Mari sejenak duduk menonton
televisi dengan saluran saluran dalam negeri. Menikmati tayangan-tayangan khas
televisi saat ini. Aku sedang tidak mengajak kalian menikmati hal menarik dalam
televisi. Karena aku tau, satu-satunya yang menarik di siaran televisi
Indonesia adalah sejuta hal yang mengantri untuk dibully. Jadi saja pemirsa selayaknya, sebentar saja.
Apa yang menghibur dari adegan
Olga dan Jessica tindih-tindihan di acara yang katanya hiburan? Apa yang bisa
ditertawakan dari tayangan lawak bertema opera jawa yang isinya penuh dengan
adegan kekerasan dan mencelakai orang lain? Apa yang bisa dinikmati dari cerita
cecintaan di sinetron anak sekolahan? Apa yang menyenangkan dari konser boyband
bernama junior yang lirik lagunya berkutat tentang jatuh cinta ala orang
dewasa? Apa yang bisa dinikmati dari televisi kita?
Lebih lagi kalau
tontonan-tontonan seperti ini jatuh ke mata anak-anak di bawah umur. Apa yang bisa mereka contoh dari televisi
negeri ini? jatuh cinta cengeng ala sinetron? Atau mencelakai orang lain ala
tayangan lawak? Atau menghina orang lain ala acara hiburan? Atau lirik-lirik
lagu mahasampah di acara berjinggle yeyeye lalalala?
Lumpia Rasa Air Mata
Senin, 10 Desember 2012
Kalau gak salah dua hari yang lalu, aku pulang kuliah dalam
keadaan kelaparan. Sengaja mampir dulu
ke warung lumpia deket kampus sebelum pulang ke rumah. Lumpia raksasa seharga
tujuh ribu yang kalau di purwokerto dimakan sebagai lauk. Aku inget, sebelum berangkat
tadi, pembantu di rumahku masak sayur asem. Pasti enak kalau lauknya lumpia
raksasa. Aku beli satu, lalu pulang ke rumah dan siap makan enak.
Namanya bu Asanah, seorang ibu yang sudah dua bulan ini
bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumahku. Umurnya 50 tahun. Perempuan
dengan lima anak dan tanpa suami. Suaminya pergi, pergi tanpa pernah ada
kejelasan soal perceraian. Pergi meninggalkan lima orang anak dan gak pernah
kembali sampai hari ini. Bu Asanah bekerja di rumahku setiap hari dari jam
sembilan pagi sampai jam empat sore. Rumahnya sekitar satu kilometer dari
rumahku dan dia pulang pergi dengan jalan kaki.
Siang itu bu Asanah bilang sama aku, mau pinjam uang seratus
ribu. Dia janji, akan mengembalikan uangku dengan gajinya. Aku tanya untuk apa,
dia jawab untuk biaya buku sekolah anak bungsunya. Aku tanya kenapa meminjam,
memang gajinya yang kemarin-kemarin kemana. Kemudian permohonan meminjam
uangnya berakhir dengan cerita panjang tentang hidup keluarganya.
Anak bu Asanah ada lima. Tiga orang sudah bekerja, menikah
dan punya anak. Semuanya hanya memberi uang pada bu Asanah seadanya setiap
bulan. Karena merekapun harus menghidupi istri dan anak mereka. Sedangkan
bekerja hanya sebagai supir taksi dan pelayan rumah makan. Uang dari anak-anak
bu Asanah habis dipakai untuk biaya makan dan hidup sehari-hari karena bu
Asanah masih harus menanggung hidup kedua orang tuanya yang sudah sangat renta,
dan anak terakhirnya yang masih duduk di bangku SMP. Keadaan ini juga yang
membuat bu Asanah harus bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Dia bilang,
gajinya adalah satu-satunya rejeki saat ini untuk anak bungsunya bisa sekolah
tinggi.
Bu Asanah cerita, setiap hari, anak bungsunya ke sekolah
dengan ongkos lima ribu rupiah. Tiga ribu untuk bayar angkutan umum, dua ribu
untuk jajan di sekolah. Kalau akhir bulan, ongkosnya berubah jadi tiga ribu
rupiah. Hanya untuk naik angkutan. Tidak ada jajan dan sebelum berangkat
sekolah sudah harus isi perut sampai kenyang. Ternyata ini yang jadi alesan bu
Asanah gak mau berangkat ke rumahku naik angkutan. Katanya, kalau dia berangkat
kerja naik angkutan, gak ada cukup uang untuk ongkos anaknya ke sekolah. Dia
memilih jalan kaki setiap hari dengan jarak yang gak dekat. Sekalipun hujan
bahkan petir, dia tetap jalan kaki.
Aku bilang, aku akan tambah gajinya asal dia mau naik
angkutan kalau bekerja. Ongkos angkutan menuju rumahku biar aku yang bayar. Dia
menolak, dia bilang mubazir. Kalau masih sanggup jalan kaki, dia akan tetap
jalan kaki. Dia bilang gajinya yang sekarang cukup. Kalau aku punya uang lebih,
lebih baik ditabungkan saja. Katanya biaya kuliah mahal, aku gak boleh
kesusahan bayar kuliah hanya karena harus menaikkan gaji pembantu.
Sambil aku menikmati makan siang, bu Asanah tiba-tiba
nyeletuk “itu lumpia jumbo yang dalemnya daging itu ya mbak?”. Aku ngangguk
sambil tetap mengunyah lumpia dan sayur asem yang super duper enak. Terus dia
lanjut ngomong, “kemaren juga anakku yang bungsu makan itu. Katanya beli sama
temen-temen sekolah di rumah makan lumpia”. Aku tersenyum. Alhamdulillah..
anaknya masih bisa beli makanan yang kayak begini. Dan senyumku berhenti waktu
dia bilang, “anakku ngumpulin uang jajannya mbak seminggu. Terus minta uang dua
ribu. Katanya buat beli makanan enak. Eh pulang-pulang bawa lumpia itu dua
biji. Buat makan malem orang serumah. Enak yah..”. Aku menelan sayur asemku.
Rasanya perih. Kayak ada yang nyangkut di tenggorokan. Gak tau apa. mungkin
rasa malu dan pengen nangis yang udah di ujung banget.
Lumpia ini harganya tujuh ribu. Di warungnya, pembelinya
kebanyakan mahasiswa karena harganya yang murah. Biasanya dimakan satu lumpia
untuk satu orang. Dan aku baru tau, kalau di titik purwokerto yang lain, ada
keluarga yang harus ngumpulin uang dulu untuk bisa beli makanan ini. itupun dua
lumpia untuk satu rumah. Berarti dibelah-belah.
“emang biasanya masak
apa bu di rumah?”
“ya sayur mbak.. sayur
tahu, sayur tempe kadang ikan asin”
“berapa bu sehari
biaya masak buat makan satu rumah?”
“tujuh ribuan mbak..”
Siang ini, aku tau, aku lupa bersyukur untuk hal-hal
sederhana. Lumpia ini contohnya.
Lepas
Minggu, 09 Desember 2012
untuk kamu, yang satu jam lalu masih disini.
kamu pasti masih hafal kalau aku benci
basa-basi. aku hanya ingin kamu membaca ini. dan aku berharap,
setelahnya semua kembali baik-baik saja. seperti enam puluh menit yang
lalu.
Sayang... ketika dihadapkan dengan lepas, kamu juga
harus belajar tentang ikhlas. Supaya kamu tidak lagi sakit. Tidak perlu
menangis sembab hingga larut. Tidak usah memberhentikan apa-apa.
Tetaplah menjadi kamu walau katamu tanpa sebagian kamu.
Aku percaya Tuhan itu adil. Dia menciptakan segala
dengan pasangannya. Seperti laki-laki dengan perempuan, seperti siang
dengan malam, seperti pertemuan dengan perpisahan. Tersenyumlah sayang,
biarkan pertemuan kita menjemput jodohnya. Ikhlaskan pertemuan kita
menjadi sempurna.
Bersamamu itu indah, aku berani bersumpah. Namun
takdir tetaplah takdir. Kamu ingat kan kita sudah berusaha? Kita sudah
sayang. Kalaupun tidak lagi bisa, aku mohon berhentilah memaksa. ada
hal-hal yang tidak bisa kita paksakan pada putaran hidup. Ikhlas sayang,
hidup tidak pernah sejahat yang kamu hujat.
Sayang, berhentilah menangisi kita. Kembali lah
menjadi kamu yang membuatku jatuh cinta dulu. Cinta bukan alasan memeras
air mata. Cinta adalah alasan kita bahagia, dengan tidak lagi
sama-sama.
Aku mencintaimu seperti pertama. Tapi, cinta, punya jalannya sendiri tanpa bisa dipaksa.
Alpha.
Langganan:
Postingan (Atom)


