Pungky Prayitno @ 2013. Diberdayakan oleh Blogger.

Simply Stay by Mustika Ratu

Sebagai perempuan yang kulitnya Indonesia banget, buat aku, agak-agak susah nyari basic make up yang warnanya pas dan klop sama warna kulitku. Banyak sih produk kosmetik lokal yang menyediakan foundation atau bedak dengan warna sawo matang, kuning langsat bahkan sangat gelap. Tapi tetep aja, susah nemu yang cocok! Paling sering karena shade nya terlalu terang sehingga di kulit aku jadinya kayak dodol udah jamuran. Dekil banget, bho!

Makanya, waktu Bblog menawarkan coba dan review produk basic make up Mustika Ratu, aku langsung semangat banget. Ya siapa tau kan, ternyata jodoh kulit sawo kematenganku ini adalah Mustika Ratu ;)

Basic make up Mustika Ratu punya nama Simply Stay. Rangkaian produk yang diformulasikan khusus untuk wanita Indonesia. Berisi Mosturizer, Liquid Foundation, Stick Foundation, Loose Powder dan Two Way Cake. Lengkap!

Kita review satu-satu ya..  :)

Menanam di Diapers Bekas Pakai

Ibu ibu yang punya anak, pasti pernah dong mengalami fase hidup 'bersahabat dengan diapers'? Popok sekali pakai atau yang dalam bahasa Jawa disebut Diapers ini, emang bikin dilema banget. Udah mana harganya ngalahin harga cabe, cuma bisa dipakai sekali, trus abis dipake harus langsung dibuang. Tapi kalau gak pakai diapers? Beuuuuh, hanya emak emak tangguh nan rajinlah yang sanggup menjawabnya :))))

Nah, disaat aku lagi seneng-senengnya berkebun ini, adaaa aja temen yang ngasih link di sosmed yang isinya pasti tips dan trik berkebun di rumah. Macem-macem deh, dari mulai pot-pot kreatif sampai resep pupuk kandang yang gak boleh dibaca kalau lagi makan. Salah satu link berisi tips yang paling aku inget adalah dari Mak Isti. Blogger blasteran Klaten-Irak ini, ngasih aku link yang isinya cara unik menanam menggunakan diapers bekas pakai. Ha? Popok bekas pakai buat menanam? Yak tul!

Berkebun di Tembok


Sejak aku heboh di sosial media kalau aku lagi mewujudkan pertanian FAITH (Food Always In The Home), banyak banget orang yang protes ke aku. Rata-rata protesnya sama, "Kamu mah enak punya halaman luas, lah aku tinggal di perumahan, mana ada lahan". Oke, satu dua orang aku tampung lah ya.. Eh makin aku hebring, makin banyak yang ngeluh "Curang.. punya lahan.. yang gak punya lahan kayak aku mana bisa". Errr.. Baiklah sodara-sodara.. Kalo emang kalian gak punya lahan, kenapa gak berkebun di tembok aja. Iya, tembok.. tempat para jomblo curhat dan meratap. Muahahahaha

Mewujudkan Pertanian FAITH (Food Always In The Home)


Sejak pindah rumah, aku emang udah berencana untuk berkebun di pekarangan. Secara ya, rumah baruku ini halamannya luas buanget, pas banget deh buat berkebun ala-ala petani rumahan gitu.. Kebetulan juga, beberapa bulan lalu, aku nemuin artikel tentang pertanian rumahan di blognya Paman Syam. Semua orang tau lah ya.. betapa aku mengidolakan Paman yang satu ini beserta metode pertanian malasnya yang asik dan seru buat dicoba.

Waktu itu, paman nulis tentang metode pertanian FAITH, singkatan dari Food Always In The Home. Metode pertanian ini adalah ide dari para petani di Philipine. Nah, sejak paman nulis waktu itu, aku udah tertarik banget dan bercita-cita untuk punya kebun FAITH sendiri. Gimana enggak, kita menanam sayur mayur dan buah-buahan di pekarangan rumah. Jadi beneran makan hasil kebun sendiri. Duh... mingini pisyan :3

Nikmat dan Segar Manisan Carica Wonosobo

Sebagai orang yang hidup di Banyumas, tentu aku deket banget sama aneka makanan dan minuman dari daerah tetangga, Wonosobo. Dari mulai Mie Ongklok, tempe kemul, sampai kripik jamur. Nah, sampai hari ini, makanan atau minuman khas Wonosobo yang jadi favorit aku banget adalah manisa Carica. Pernah coba? Duh, rugi banget kalau belum pernah. Ini tuh manisan paling enak sejagat raya.. Rasanya asam dan manis dalam satu sruputan. Ditambah es dan telor-teloran kodok, hmmm, nikmate puol!

Gula Plastik, Ketika Berbagi Tak Harus Memiliki


“Mbak Pung.. Aku mau jujur.. Jangan marah ya..”

“Kenapa bu?”

“Kemaren aku pulang jalan kaki, gak jadi ngangkot. Ongkosnya aku pake buat beli tahu, soale di rumah cuma ada kangkung buat buka puasa”

Namanya bu Asanah, perempuan berusia setengah abad lebih yang sudah dua tahun ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumahku. Setiap hari, bu Asanah berjalan  kaki satu kilometer untuk sampai ke rumahku.  Pulang pergi, jadi dua kilometer. Tapi itu dulu, jauhnya begitu. Sekarang, sejak aku pindah rumah, jarak yang harus ditempuh bu Asanah buat sampai ke rumahku bertambah jauh dua kali lipat. Kalau jalan kaki, apalagi untuk perempuan di atas 50 tahun, mungkin sampai tujuan, kaki rasanya keram dan pegal-pegal. Makanya, setiap hari, aku selalu ngasih bu Asanah uang untuk ongkos naik angkot.